RSS

Lihat Lebih Tajam

22 May

Segala puji hanya bagi Allah yang telah begitu murah memberikan segala nikmat yang hari ini masih bisa kita rasakan. Rabb yang telah memberikan kepada kita ketenteraman jiwa dengan keimanan yang terus menjadi ruh dalam setiap manuver dakwah yang kita lakukan. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada pemimpin revolusi imperium hitam menuju kemilau cahaya hidayah beliau Rasulullah Muhammad saw. Semoga tersampai pula pada seluruh ummat beliau yang begitu mengharapkan syafaat beliau kelak.

Pernahkah kita berfikir lebih jauh dan menghilangkan nilai-nilai pragmatis yang ada dalam hidup kita sendiri untuk sementara waktu saja ? kita coba lihat keluar dari rumah kita dan sedikit berjalan menyusuri jalalanan yang semakin hari kia sesak saja. Jalanan yang setiap hari menjadi saksi bahwa manusia yang semakin berdinamisasi dengan kehidupan terus saja bergejolak.

Tak jauh dari langkah kita, maka kita akan banyak melihat ketimpangan yang masih saja terjadi di lingkungan sekitar kita. Tak tahukan kita perempatan jalanan itu kini maskin ramai oleh manusia-manusia tua dan baya yang menggantungkan hidupnya pada jalanan, kendaraan, dan sampah. Dari mereka masih banyak yang terlihat kumuh lagi hitam tak beraturan. Berjalan ke sana kemari hanya untuk mencari sesuap nasi.

Dari mereka masih sering terlihat tidak hanya dalam rentang umur yang relative tua ataupun dewasa, bahkan anak kecil yang harusnya masih menikmati indahnya mainan dan kasih sayang orang tuanya, kini harus ikut bekerja keras membanting tulang yang masih rapuh, bekerja bersama teman-teman sejalan mereka. Ataukah, ini kehidupan jalanan memang sudah menjadi mainan mereka? Ataukan kebiasaan meminta memang adalah bentuk kasih sayang yang mendarah daging bagi mereka ?

Anak kecil dengan pakaian lusuh itu, masih saja bersemangat untuk menegadahkan tangan mereka kepada semua pengguna jalan. Dari yang memakai sepeda motor jaman tua hingga mobil mewah yang harganya tak pernah terbayang dalam benak mereka. Buat mereka, itu sama saja, entah pake motor ataupun kendaraan yang lain. Dalam benak mereka yang membedakan diantara mereka hanya uang yang bisa mereka terima dari para pengguna jalan tadi. Ini memang aneh, tapi keanehan yang begitu sering, terkadang akan menjadi suatu kebiasaan dan adat yang tidak akan bisa diubah lagi realitanya.

Larut dan dinginnya malam tak membuat mereka merasa bosan denga aktivitasnya. Anak-anak ini masih saja ayik membanting tulang di perempatan. Sekali-kali mereka manyanyikan lagu keluh kesah dan derita untuk menambah “nilai jual” kehidupan mereka yang apa adanya. Hujan pun masih mereka lalui di tempat itu. Seakan berperang dengan cuaca, mereka tak mau kalah, karena mereka memposisikan diri layaknya panglima perang yang tidak akan jatuh dari kudanya hanya karena sabetan pedang musuhnya. Yah…sudahlah, toh dari bibir mereka terkadang masih saja teruntai simpul-simpul senyum yang begitu menawan dan aduhai. Senyum yang sanggup menipu sekian banyak mata manusia yang tidak pernah bisa melihat bahwa mereka juga butuh diperhatikan.

Lalu pernahkah mereka berpikir untuk sekolah? Jawabannya cukup beragan dan unik, menggelikan, dan terkadang membuat air mata ini tak sanggup lagi tertahan dari kelopaknya. Mereka masih mau sekolah atau memang mereka sudah mengapus semua impian tentang sekolah. Sunguh tidak dan sekali-kali tidak, mereka juga ingin pandai seperti kalian, mereka juga ingin merasakan nikmatnya belajar di kursi yang tidak semua orang bisa mendudukinya. Mereka juga ingin bersapa dengan gurunya, atau hanya sekedar merasakan nikmatnya jajan di kantin. Tidakkah mereka punya kesempatan itu ? ataukah hanya untuk berharap saja mereka tak boleh?

Lalu apa yang terjadi dengan kita yang masih bisa bersekolah! Kita masih bisa menikmati dinginnya ruang ber_AC yang dibayar belum tentu dengan keringat kita sendiri. Kita masih bisa menikmati sekian banyak fasilitas yang belum tentu anak-anak malang tadi dapatkan. Ketika mereka sedang bergelut dengan panas teriknya surya, kita malah seenaknya “cabut” dari ruang kelas yang sama-sama diimpikan. Kita masih saja mengeluh dengan semua hal yang kita terima saat kita diberi pendidikan sekolah. Kita masih saja menjalaninya dengan seenaknya, seakan-akan kita bisa mendapatlkan apa yang kta mau.

Sungguh tidak sahabatku… setiap kelalaian kita pada apa yang kita lakukan, adalah bentuk pengkhianatan yang teramat dalam bagi semuanya. Tak sadarkah kita semua bahwa mereka sangat berharap pada kita. Tak sadarkah mereka sangat mengharapkan perubahan yang terjadi oleh orang-orang terpelajar seperti kita? Ataukah kita termasuk orang yang masih berkutat dengan egoisme diri yang masih ingin dimanja? Tak malukah kita dengan mereka?

Keadaan memang belum berpihak kepada mereka. Keadaan yang begitu semrawut membuat meraka tidak berani berharap banyak. Keadaan seakan-akan telah diatur oleh para oportunis yang siap mengambil lahan emas milik siapapun bahkan di kebun tetangganya. Ataukah kita hanya manusia yang bisa menyalahkan keadaan. Keadaan yang akan selalu kita jadikan kambing hitam dari sekian banyak permasalahan yang mendera. Keadaan yang membuat kita sendiri tidak mampu bebrbuat banyak dan hanya bisa membaca artikel usang tentang kehidupan yang lebih buruk.

Walaupun demikian, masih saja banyak orang yang mencibir keadaan mereka yang sudah kesusahan. Terepas dari semua hal negatif yang mungkin mereka lakukan, mereka sangat butuh uluran tangan dari manusia-manusia layak seperti kita semua. Cobalah kita sapa mereka dengan senyum terbaik kita, ataukah sekedar mendoakan mereka saja lidah kita terlalu sombong?

Realita mengatkan bahwa kemampuan kita juga terbatas, namun apa daya kemampuan yang tidak pernah diasah dan hanya berargumen kelelahan dan keterbatasan? Mau sampai kapan kita akan terus bermanja-manja dengan keadaan, yang mungkin hari ini masih berpihak kepada kita ? ayo sahabat…jangan ragu lagi untuk membantu mereka.

Atau jangan-jangan kita hanya berpikir dakwah ini hanya di masjid. Ataukah dakwah ini hanya sekedar mengisi kajian rutin dan menghadiri tatsqif pekanan. Klo Anda masih berpikir seperti itu, maka segeralah anda keluar dari tempurung masjid dan lihat lebih teliti lagi bahwa sekitar Anda masih sangat memprihatinkan. Jika kita masih saja bersikap individual, mau dibawa kemana hidup ini. Ataukah kita adalah orang yang betah hidup dalam rumah mewah yang dikerumuni rumah lusuh dan kompleks sampah yang meninggi.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on May 22, 2008 in Bijaksana

 

2 responses to “Lihat Lebih Tajam

  1. pembri

    May 29, 2008 at 4:38 am

    subehaAllah….akh,hebat bgt uraiannya. smoga itu bukan hanya membekas pada orang yang membacanya saja,tapi juga pada penulis dan orang yang merasa dirinya penulis…

    Allah memang sutradara yang sangat hebat,mampu menciptakan skenario yang sangat kompleks.mulai dari yang besar sampai yang kecil, mulai yang kaya sampai yang miskin dan menjadikan mereka sebagai ladang amal bagi sesamanya.

    sungguh Allah telah membuka hati orang2 yang mengimaniNya.

    y Allah,muliakanlah sodaraq ini dan berilah dia, apa yang telah kau beri pada orang tercintamu.amin….

     
  2. nad

    June 2, 2008 at 3:45 am

    betapa memori menguasaimu saudaraku,,

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: