RSS

Seperti Biasa Tak Ada yang bEdA

09 Jul

Hari ini saya kembali ke Madiun. Kira-kira pukul 19.15 bus membawa saya keluar dari terminal Jogja. Seperti biasa dan tak ada yang berubah, saya duduk di dalam bus sendirian diantara puluhan bangku yang kosong, sedang bus pun seakan bersikap acuh dengan kedaan ini terus saja melaju dengan kecepatan cukup tinggi standar bus malam. Di tengah perjalanan saya masih sempat menghubungi seorang temen akhwat untuk minta tolong mengkopikan sebuah draft (afwan ya Mbak, saya tahu mbak juga capek, walaupun akhirnya draftnya ga dipake) dan menyempatkan diri membaca beberapa halaman buku. Perjalanan tetap saja seperti itu, terkadang membuat saya sedikit mengantuk…membosankan karena tidak ada pengamen atau seseorang yang duduk di sebelah saya untuk sekedar berrtukar cerita.

Sekitar pukul 00.00 saya sudah tiba di terminal Madiun. Oh…betapa leganya. Aroma kota kecil ini begitu khas, keadaan di terminal pun cukup tawadhu. Tapi, saya cukup bahagia bisa kembali menginjakkan kaki ini di tempat yang sudah banyak memberikan kepada saya pelajaran yang unik dan tak akan pernah bisa terhapus dalam memory saya sendiri. Sayang…malam itu saya tidak bisa menginap di rumah Madiun. Orang tua menghendaki saya untuk segera pulang ke kota kelahiran. Yah…tak jadi masalah sih.. tapi jujur saya masih belum puas dengan prolog ini, terlalu singkat dan tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya menggunakan 20 menit saya untuk untuk jalan-jalan di lobi terminal yang sebenarnya keadaanya pun cukup hening. Sebagian besar pertokoan telah menutup pintunya seakan tak mau menatap wajah saya yang kusut kecapekan. Hanya tertinggal beberapa pedagang yang memang berjualan nasi pecel hingga esok pagi. Hingga akhirnya saya harus kembali naik bus dengan berat hati ke Ponorogo (oh…bapak..Ibu..kenapa ga pindah aja ke madiun?) perjalanan sepi dan sendiri ini kembali terulang, setengah jam terlampaui begitu saja, sedikit beda, busnya kali ini lumayan penuh.

Di Terminal, hawa dingin yang dihembuskan angin malam makin terasa saja, karakter daerah Ponorogo yang memang sedikit tinggi datarannya. Wajah yang tak akan pernah bisa terlupa itu mulai melebarkan senyumnya ketika anak muda ini turun dan mulai menapak ke arahnya. Ternyata Bapak sudah menunggu lama untuk perjumpaan malam ini.

Senyum itu terburai melebar, lengan ini pun begitu ringannya berayun bersambut dengan sang Bapak. Jari-jemari bersentuhan dan ciuman hormat pada tangan sang Ayahnda secara spontan begitu saja terjadi. Oh…Allah apa yang terjadi jikalau 30 menit yang lalu saya tetap egois tidak mau balik ke Ponorogo. Tubuh yang kian merenta itu akan tetap berperang dengan hawa dingin penuh harap namun kosong tak berdaya sama sekali, bisa-bisa sampe pagi. Maafkan saya Bapak…ini hanya keinginan kecil dari anakmu yang jalan pikirannya masih terlampau pendek. Bukannya punya niatan durhaka, tapi ya begitulah…terkadang dan cenderung sering memang saya perlu diingatkan. Perjalanan belum selesai, saya masih harus mengendarai motor sekitar 30 menit lagi. Kembali melawan hawa dingin malam untuk segera tiba di rumah. Saat ini, egoisme saya sudah benar-benar luntur. Saya sudah tidak lagi berpikir tentang Madiun. Yang ada di benak saya hanya pingin segera tiba di rumah, karena mala mini benar-benar dingin.

Kita pun tiba di rumah…

Dasar Dimas…Bapak belum selesai dengan urusan parkir motor di garasi, eh,,,udah maen tinggal aja masuk rumah. Saya langsung buka pintu rumah, yang kebetulan malam itu memang tidak dikunci, masuk ruang tamu dan…”Assalamualaikum…”. “Waalaikumsamlam…” sebuah jawaban beriring senyum hangat yang begitu menyejukkan hati terurai dari seorang wanita tercantik di keluarga kami. seorang wanita yang begitu perhatian, namun akhir-akhir ini sering cemas karena anak terakhirnya sering ikut aksi mahasiswa. Seorang Ibu yang ternyata shalat malamnya boleh jadi lebih sering dari anaknya, seorang Ibu yang shaumnya lebih banyak ketimbang anaknya, seorang Ibu yang kini mulai sering menggunakan pakian terusan lebar mirip jubah. Seorang Ibu yang air matanya sering tertumpah karena ulah anaknya sendiri.

Setelah itu, Ibu pun menyuruh saya buat makan. Saya yakin Ibu sudah menyiapkan makanan ini sedari tadi. Mau nolak, ga enak juga sama Ibu…akhirnya makan juga walupun sedikit. Sehabis makan, saya memutuskan buat langsung tidur, karena agenda esok pagi yang bakalan banyak menguras tenaga sudah menunggu di Madiun. Saya melewatkan malam ini tanpa qiyamul lail…karena udah capek banget habis acara daurah langsung cabut ke Madiun, ketika bangun tidur, ternyata udah subuh. Paginya saya masih sempet sedikit ngobrol sama Ibu, sedang Bapak, seperti biasa, setiap pagi liburan, beliau selalu sibuk bersih-bersih halaman depan. Saya pun izin sama Ibu…”Ibu…hari ini saya ada acara ke Madiun, biasa ketemu sama temen-temen”. Seakan sudah terbiasa dengan alasan itu, Ibu pun ngasi izin dengan mudahnya. Saya yakin ibu juga aga berat, tapi ini amanah Bu…Insya Allah! Setelah semua persiapan selesai, saya pun langsung chauw ke Madiun…. Oh…Madiun…WELCOME SYURA>>>>

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on July 9, 2008 in Kisah

 

One response to “Seperti Biasa Tak Ada yang bEdA

  1. nad

    July 17, 2008 at 11:11 am

    ehem, yang pulang niih,
    oleh-olehnya mana mas?
    haha

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: