RSS

negeErIku oh…negriku

05 Sep

Ratusan tahun telah berlalu… Adalah awal dari rentetan sejarah panjang perjuangan bagsa mengusir para kolonial, hingga akhirnya enam puluh tiga tahun yang lalu kita semua benar-benar terpukau dan tersujud akan keberanian bangsa ini menyatakan kedaulatan dan keterbebasannya. Sebuah pengakuan bagi jeritan panjang derita karena terus menerus diperah dan teraniaya tak berdaya. Perjuangan yang pada akhirnya membuat kain merah dan putih itu benar-benar berkibar dengan gagahnya di birunya langit nusantara. Sebuah perjunagan yang akhirnya membuat nada-nada Indonesia Raya berkumandang dengan syahdunya.

Kita semua masih mengingat betapa sakralnya hari itu. Sebuah hadiah besar pagi para manusia yang merindukan sebuah kemenangan dan kemerdekaan. Sebuah massa yang mampu melahirkan pemuda-pemuda tangguh sekelas Sudirman, yang ketika sakit parah, tetap memilih untuk melanjutkan gerilya bersama pasukannya. Atau juga seorang Soetomo, yang dengan berani membakar jiwa arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November, hingga ribuan nyawa tumbang di kota pahlawan. Tidak hanya itu, perjuangan panjang bangsa ini juga melahirkan tokoh-tokoh muda pemikir sekelas Hatta atau Natsir yang tak kalah gigih membawa bangsa ini menuju kemapanan cara bersikap.

Tak sadarkah kita bahwa apa yang hari ini bisa kita nikmati adalah berkat jerih payah mereka pula. Padi yang akhirnya menjadi beras dan kita makan, ditanam di tanah yang di dalamnya pernah mengalir darah mereka semua. Tanah yang hari ini kita pijak, adalah tanah yang telah bersatu dengan tulang-tulang manusia pemberani yang sukses mengantarkan bangsa ini hingga sejauh ini. Sudahkah kita lupa dengan semua ini? Ternyata perut kita pun bisa kenyang tak lepas dari mereka.

Entahlah…toh hari ini, rakyat di negeri ini lebih sibuk dengan urusan isi perut masing-masing. Para pemulungnya tetap saja asyik mengais-ngais sampah layaknya ayam kampung. Tak mau kalah, petugas satpol PP pun terkadang tak berdaya harus bersikap “sok galak” saat mengusir para penduduk liar di kota besar. Tak lain dengan tukang becak, yang masih setia menunggu di kursi empuk becaknya hanya untuk mendapat beberapa rupiah untuk sekolah anaknya, itupun setelah dipotong biaya makan hari ini.

Masalahnya ternyata tak berhenti disini. Anak sekolahnya terkadang harus “belajar” untuk berbohong, sedang gurunya juga ikut-ikutan resah dan lebih suka berbuat pasrah. Ada lagi yang mengherankan dikala para pemudanya lebih menyukai berada di tempat-tempat nyaman penuh gemerlap dan irama khas musik hedonis, berjojing ria untuk sekedar menyalurkan “bakat”, itupun mereka masih bisa bangga dan menjadikannya sebagai kegiatan rutin.

Di kalangan birokrat justru lebih aneh. Para pejabat bangsa ini pun masih sibuk menguras uang negara agar bisa masuk ke kantong pribadinya. Isu-isu miring tentang wakil rakyat yang ada di gedung megah lambang penegakan demokrasi itu tak kunjung habisnya. Dari skandal suap hingga skandal wanita pun ada di tempat ini. Apa jadinya hukum di negeri ini ketika ketukan palu hakim sudah bisa diganjal dengan rupiah? Apa yang akan terjadi tatkala dengan rupiah kita bisa memilih ruangan penjara yang nyaman sesuai pesanan. Toh, para koruptor yang akhirnya keluar dari penjara bisa kembali diterima dengan baik oleh masyarakat. Seakan-akan ketika kemarin tertangkap, hanya karena nasib sial saja pas ketahuan para penyidik. Mau sampai kapan bangsa ini akan bernasib sial?

Seakan-akan peringatan Tuhan selama ini hanya kebetulan belaka. Bukankah kita pernah diguncang tsunami hebat akhir 2006 lalu? Atau lumpur panas yang sampai detik ini tak juga jelas penyelesainnya, yang para korbannya masih saja tinggal di barak penampungan dengan seabrek masalah sosial ekonomi yang berlarut-larut. Tak cukupkah pelajaran berharga dari sejarah kelam nan panjang dari bangsa ini bagi kita semua?

Tidakkah kita semua bosan dengan keadaan negara ini yang tidak kunjung membaik…tidakkah kita semua sama-sama bermimpi indah tentang kesejahteraan bangsa tercinta ini. Sebuah keadaan yang sejuk lagi rindang untuk sekedar berteduh di bawah pohon kedamaian dan ketenteraman. Jika kita saja merasa bosan dengan keadaan ini.. tidakkah kita membayangkan, betapa bosannya mereka yang hari ini masih kuasa hidup di bawah jembatan atau betapa lelahnya mereka yang hari ini hanya mampu menengadahkan tangannya di perempatan jalan?

Sungguh..mereka semua tak punya kesempatan layaknya kita sekalian, mereka benar-benar telah mempercayakan semuanya kepada kita, mereka semua punya harapan besar pada kta yang hari ini masih bisa menikmati ilmu, yang hari ini masih bisa bisa dan berani bercita-cita untuk sebuah perubahan bagi bangsa ini. Sebuah perubahan yang akan membawa bangsa ini kepada sejarah keemasan yang didambakan. Maka segeralah bersiap kawan.. karena api kebangkitan itu tidak akan begitu mudahnya padam dan perjuangan panjang ini tidak layak untuk segera diakhirkan.

Wahai anak muda peradaban…secercah harapan itu kini ada di tanganmu…lentera yang akan menerangi kembali bangsa ini ada di genggamanmu, kesempatan untuk menunjukkan siapa sebenarnya bangsa ini sedang ada pada dirimu. Wahai anak muda timur dan barat, hari ini bukan saatnya untuk bermanja, bukan pula kesempatan untuk mengkahiri asa dan cita. segeralah sadar dari mimpi indahmu tentang kemakmuran, karena detik ini bukanlah waktu yang tepat untuk bermimpi, melainkan untuk segera mewujudkannya. (piss ^..^)

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on September 5, 2008 in Bijaksana

 

2 responses to “negeErIku oh…negriku

  1. d.ulfi

    September 10, 2008 at 3:17 am

    bangkitlah negeriku…
    harapan itu makin nyata

     
  2. dian, mb di

    September 13, 2008 at 8:32 am

    we…mbak upik baca blog-nya pak dimas juga to?keyenzz….
    Bangkitlah negeriku
    harapan itu pasti ada…
    berjuanglah bangsaku..
    jalan ini masih terbentang…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: