RSS

Antara PHK dan Keguguran Kandungan…

14 Mar

Adalah Pak Darwito, seorang pekerja di suatu pabrik di Jawa. Beliau ini adalah seorang pekerja yang sangat rajin, bahkan managernya mengatakan jikalau Pak Darwito ini adalah pekerja yang tidak pernah melekukan kesalahan. Selama ini kehidupannya bisa dikatakan cukup, tinggal bersama seorang istrinya di rumah kontrakan yang damai.

Kisah ini tiba-tiba berubah. Suatu hari Pak Darwito sudah tidak lagi dapat ditemui di pabriknya. Beliaunya ternyata sedang asyik berjualan asongan di perempatan jalan. Dengan topi putih yang mulai pudar karena sengatan matahari dan pakaian lusuh seadanya, beliau begitu “menikmati” perjuangan hidupnya. Ada apa gerangan? Tidak mungkin beliau bolos kerja (nggak banget…). Bukan juga pekerjaan sambilan yang dipakai sebagai tambahan keuangan keluarga.

Seorang “mbak-mbak” menghampiri beliau berniat ingin menanyakan alias tabayun. Perbincangan pun dilakukan dengan beliau di tepi jalan. Tak seberapa lama waktu tiba-tiba ada seorang bertubuh “gedhe” berisi dan berotot yang menghampiri beliau juga. Wajahnya bengis dan keliatan menyeramkan. Tiba-tiba saja orang perkasa ini bertanya pada Pak darwito dengan nada yang tinggi nan menakutkan, “hei..Dar, kapan mau bayar hutang?” spontan Pak Darwito juga kaget. Kaget dengan suaranya yang seram dan kaget karena tidak disaangka akan ditagih di tepi jalan. Orang perkasa ini pun marah, semua barang dagangan Pak Darwito dihamburin ke jalanan.

Emang resek tuh orang, udah tahu kaga punya duit, masih aja ditagih, dihamburin lagi barang dagangannya. Giman bisa bayar hutang coba? Orang daganganya pada kotor. Badannya aja yang gedhe, otaknya tetap aja “volumenya” minimalis. Dia pun pergi dengan angkuh, kaya truk tronton mau jalan di pantura. Udah Gedhe…item…lemot.. sambil cengar-cengir lagi…

Mbak-mbaknya nerusin buat nanya sama Pak Darwito. Kenapa gitu bapaknya nih koq sampe jualan asongan di perempatan. Bapaknya nyeritain sambil terisak-isak tegar. Menurut cerita beliau, pada suatu hari ia dipanggil oleh atasannya untuk menghadap. Tanpa banyak bicara, atasanya langsung menyuruhnya untuk membaca sebuah surat di dalam amplop. Pak Darwito pun kebingungan, surat apa gerangan yang akan ia baca. Langit tampaknya tidak sehitam saat mendung. Petir pun tidak menyambar membuat siang itu jadi menakutkan. Tapi suasana hati Pak Dar nampaknya tidak secerah langit di atas pabriknya. Ternyata surat tadi adalah surat yang tidak pernah ia harapkan selama hidupnya, minimal selama ia kerja di pabrik tadi. Yah…sebuah surat keterangan bahwa Pak Dar sudah tidak berhak lagi untuk bekerja di pabrik tadi. Wouw…kontan beliau langsung kaget. Beliau pun memohon pada managernya, ternyata tetap saja tidak berubah.

Ya sudahlah..emang belum rizkinya kali..Pak Darwito pun pulang dengan lemas dan ta berdaya.. Saking tak berdayanya, uang pesangon yang sebenarnya jumlahnya cukup besarpun tak mampu membuat bibirnya tersenyum lebar. Kenapa gerangan? Ternyata semua kejadian ini bertepatan dengan kebutuhan hidup yang lagi ada pada puncaknya. Kontrakan rumah sudah saatnya untuk dibayar dan kebetulan banget, sang istri tercinta sudah hampir mengeluarkan buah cinta mereka berdua.

Pak Dar pun berjalan pulang… beliau pulang melewati jalan yang biasa dilewati. Sepanjang jalan ia hanya bisa meratapi nasibnya yang sungguh tiba-tiba. Wouw…ini semua benar-benar di luar dugaannya. Bertepatan banget dan semua terjadi beruntun begitu saja. Langkahnya makin gundah saja ketika hampir mendekati rumah…

Sok..ketika di depan rumah, Pak Dar kagetnya bukan main. Tiba-tiba teras kontrakannya sudah penuh dengan barang-barang yang selama ini akrab dengannya. Meja tua dan beberapa kursi pasangan setianya, kasur dan bantal yang warnanya sudah mulai memudar, serta beberapa perabot dapur termasuk cangkir karatan yang setiap pagi beliau gunakan buat minum kopi. Semuanya berhamburan gak jelas, layaknya korban pengungsian.

Pandangannya tak lekas membuatnya tergerak buat merapikan semua ini. Sorotnya tertuju pada seorang wanita dengan duster kebiruan yang terduduk lemas di antara serakan perabotan. Adalah istri dari Pak Dar sendiri yang sudah sedari tadi menangis tanpa henti. “ Oh..Bu, ada apa ini? Kenapa dengan semua barang-barang kita? “ Dengan isak dan tenaga yang tersisa sang istri menjawab, “ Tadi yang punya rumah datang lagi Pak, kali ini mereka serius, kita sudah harus pindah dari tempat ini Pak..!”

Kecewa nian Pak Dar mendengar semua ini. Dalam benaknya mungkin saja bertanya. Dalam hari yang sama harus menghadapai serentetan kejadian yang bisa jadi “luar biasa” bagi dirinya. Sang Istri pun lalu bertanya keheranan, “Lho…koq sudah pulang pak, khan masih pagi?” Pak Dar pun bingung harus memberikan jawaban seperti apa kepada istrinya. Belum sempat dijawab oleh Pak Dar, tiba-tiba sang istri bertanya lagi tentang amplop yang ada di tangan suaminya. “amplop itu isinya apa Pak?”

Makin terpojok saja posisi Pak Dar. Sang istri meraih amplop itu dan membukanya. “Wah…banyak sekali uangnya Pak, kita bisa mengontrak lagi klo seperti ini “, Sahut istrinya. Bingung nian Pak Dar harus cerita apa sama istrinya. Lidahnya tiba-tiba terasa kaku dan tak berdaya. “Cukup banyak sih Bu…tapi setelah hari ini kita akan sering kekurangan”. Sang istri malah kebingungan dengan jawaban pak Dar yang tidak jelas. “Emang kenapa Pak ?” ,Tanya istrinya. “hari ini ada berita buruk di Kantor, aku kehilangan kerjaku Bu…aku di PHK, jadinya ini adalah uang pesangon dari pabrik itu”.

Sontak Sang Istri kaget bukan main…Kaya dapet “bingkisan” pahit yang begitu mendadak pada diri yang sudah capek karena telah diusir dari rumah kontrakan mereka. Istri Pak Dar tiba-tiba saja sudah tidak sadarkan diri. Kepiluan yang diterima suaminya ternyata justru membuatnya kalut, seakan tak bisa menahan semua beban ini. Pak Dar ternyata tak kalah bingung, masih mending lah..beliau tidak ikut-ikutan pingsan. Beliau langsung membawa istrinya ke Rumah Sakit. Seorang wanita yang tengah hamil tua, mendapat cobaan yang begitu luar biasa.

Waktulah yang akhirnya menjwab semua ini. Pak Dar harus membanting tulang berjualan di tepi jalan buat memenuhi biaya pengobatan istrinya. Waouw…hebat banget…sedang Istrinya harus ditinggal sendirian di Rumah Sakit karena beliau lebih banyak menghabiskan waktunya buat berjualan asongan. Hingga suatu hari, ternyata penderitaan ini belum berhenti sampai disini. Pak Dar dipanggil oleh dokter yang merawat istri beliau.

Pak Dar pun semakin sedih saja hari-harinya, setelah dokter ini menyampaikan bahwa sepasang manusia ini harus bersabar kembali untuk mendapatkan momongan. Benar saja, ternyata kandungan istrinya melemah karena begitu banyak tekanan. Calon anak pertama mereka harus mendahului kedua orang tuanya menemui Tuhannya.

Pak Dar tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Sirna sudah harapan beliau kali ini. Ternyata Allah berkata lain tentang kehidupan mereka. “lalu apa yang harus saya katakan sama istri saya Dok..?” Tanya pak Dar sedih. Dokter tersebut hanya mengatakan “Sabar ya Pak, kami akan membantu keluarga Bapak”. Sebuah kata penenang yang bisa jadi tidak memberikan efek sama sekali. Malang nia nasib Pak Dar. Baliaupun kembali ke jalanan dan meneruskan perjuangannya meniti hidup. Kembali berjuang, paling tidak buat mencari uang untuk mengeluarkan istrinya dari Rumah Sakit tersebut.

Selamat berjuang Pak Dar…semoga bapak diberikan kesabaran. Jangan bersedih ya Pak…

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on March 14, 2009 in Kisah

 

2 responses to “Antara PHK dan Keguguran Kandungan…

  1. fachri

    April 7, 2009 at 5:50 pm

    ini cerita nyata ?

     
  2. dimasagil

    April 22, 2009 at 10:38 pm

    Insya Allah cerita nyata, diambil dari acara reality show di sebuah stasiun TV swasta…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: