RSS

Bermujahadah pada kemenangan

14 Mar

Enam Puluh Tiga tahun telah berlalu sejak pagi itu, pagi hari yang kemudian berhasil mencatatkannya dalam sejarah penting bangsa ini dalam menapaki tiap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan mengatur negeri sebesar dan semegah Indonesia. Deretan nama-nama manusia yang berhasil menempati posisi kepemimpinan sipil tertinggi di negeri ini pun tidak akan pernah terlupa dan memang tidak patut dilupakan, karena mereka semua telah memimpin dengan karakternya masing-masing. Dari tokoh kharismatik yang pandai berorasi, tokoh militer, dan kyai bahkan hingga insiyur canggih yang diakui dunia, semua itu adalah bagian indah dari harmoni sejarah bangsa ini.

Dari keenam presiden yang telah memimpin bangsa ini, semuanya telah menunjukkan pengabdian optimalnya kepada bangsa. Dengan segala kekurangan dan prestasinya, harusnya kita tetap bersyukur karena telah dianugerahi pemimpin sekelas mereka semua. Tetapi proses perbaikan bangsa ini tidak boleh berhenti pada koordinat ini saja. Sebagai warga negara yang baik, tentu kita mengingkan negara ini mencapai tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang didamba. Tetapi pengabdian kita kepada Allah mengisyaratkan kita agar bercita-cita luar biasa yang bisa jadi ini adalah hal gila bagi sebagian orang. Menjadi rahmatan lil ‘alamin, yang hari ini kita terjemahkan sebagai Ustadziatul Alam. Ada kepentingan bagi kita semua untuk menjadikan Islam sebagai guru peradaban yang akan memberikan kemakmuran dan perlindungan bagi semua penghuni dunia.

Memilih pemimpin terbaik, bisa jadi adalah instrumen yang hari ini kita pergunakan untuk mewujudkan semua cita-cita ini. Berangkat dari titik inilah nantinya akan terwujud masyarakat madani yang akan memberikan bashirahnya bagi ummat. Merupakan representasi paling jelas dari semua teori kemakmuran yang kita pelajari dalam Al-Quran. Hari ini kita ada di posisi ini. Maka sudah seharusnya kita memanfaatkan anugerah Allah yang sedemikian agungnya.

Jika kita kembalikan kepada konteks negara Indonesia, yang hingga detik ini masih menggunakan sistem demokrasi dalam pemilihan kepala negaranya, bisa jadi ini tertolak bagi sebagian orang. Memang benar, ini adalah teori barat dan tidak salah memang, demokrasi yang berusaha mengakomodasi semua kepentingan rakyatnya ternyata tidak mampu memberikan apresiasi terbaik pada kualitas manusia. Tidak ada bedanya antara Profesor dan seorang pemabuk, begitu juga tidak ada pembeda yang jelas antara ahli agama dan (maaf) pekerja seks komersial. Inilah sebenarnya yang tidak bisa diterima oleh akal dalam penerapan teori kenegaraan yang berasal dari negeri 1000 dewa ini. Karena semua dinilai dengan harga yang sama, satu suara.

Tetapi, kita juga harus sadar, dan bangun dari mimpi indah tentang persatuan ummat. Hari ini kita sedang ada di dalam proses panjang yang bernama demokrasi itu sendiri. Kita bukan pecundang, yang harus lari dari masalah. Bukan juga bersikap acuh dan memilih cuek tanpa hujjah yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Jujur sajalah, hari ini kita sedang menikmati demokrasi ini dengan cara terbaik yang kita punya. Sudah sepatutnya kita bersyukur, karena bisa jadi keadaan kita hari ini, semua fasilitas yang ada hari ini, jauh lebih baik daripada yang dialami oleh para muharrib pendahulu dakwah ini. Bukan juga kemudian terlena oleh fitnah dunia, melainkan mencoba memberikan solusi terbaik untuk menghadirkan representasi yang paling jelas dari kebangkitan ummat menuju cita-cita bersama yang kita harapkan tadi.

Kebangkitan dan persatuan ummat bukan saja dinilai sebagi cita-cita. Tetapi dia adalah proses yang dijalankan dengan segenap kesungguhan dan memperhatikan nilai-nilai ke-istimroriyah-an, dan hingga detik ini kita sedang bekerja keras menjalani setiap tangga dari proses tersebut. Ibarat sebuah bangunan yang bernama kemuliaan, bisa jadi apa yang kita lakukan hari ini baru sekedar membangun tembok-temboknya. Belum tentu kita yang akan menikmati hasil perjuangan panjang ini, tapi yakinlah apa yang hari kita usahakan akan menjadi titik awal perbaikan di masa depan menuju kemuliaan tadi. Kita memang butuh kekuasaan itu, kita memang butuh kewenangan menjalankan roda pemerintahan negeri ini. Tetapi kita membutuhkannya bukan dengan motif diktator atau bahkan untuk memperkaya diri. Jauh dari semua itu, kita menginkannya karena kita mendambakan perbaikan di negeri ini.

Kita mendambakan setiap anak tumbuh menjadi pemuda-pemuda tangguh yang siap berjihad di medan dakwahnya. Kita merindukan setiap simpul senyum kebahagiaan terurai lembut dari setiap bibir penghuni negara ini. Kita mendambakan sebuah tatanan yang madani, yang mampu menggambarkan betapa indahnya Islam, hingga izzul Islam wal Muslimin ini benar-benar terwujud. Likulli zamanin rijaaluha.. karena bisa jadi rijal-rijal tadi adalah kita semua. Kita jualah yang punya andil besar dalam mewujudkan semua cita-cita besar Islam. Karena kita pula lah yang akan dengan bangga mengibarkan kembali panji-panji Allah di muka bumi. Maka teruslah bermujahadah dengan sunnah-sunnah kemenagan hingga semua cita-cita kita akan bertemu dengan takdir terbaik dari-Nya. Insya Allah…

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on March 14, 2009 in Bijaksana

 

2 responses to “Bermujahadah pada kemenangan

  1. dian

    March 15, 2009 at 6:40 am

    subhanallah tulisannya pak!!!mau nyaingin pak anis matta ya???

     
  2. finarukawa

    August 14, 2009 at 9:49 am

    insyaAllah Indonesia bisa menjadi negara yang lebih maju..
    ibarat per..makin banyak tekanannya, makin tinggi juga pantulannya..
    Indonesia banyak banget tertimpa masalah sampai saat ini..semoga aja bisa mendorong bangsa ini jadi lebih maju.. amiin..
    hhe..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: