RSS

Pemilu [Gak] Penting…??

14 Mar

Ketika mendengar kata “Pemilu” bisa jadi ada diantara kita yang kuping dan hatinya udah panas duluan. Bosan dan lelah dengan semua retorika yang tidak jelas arah dan tujuannya, atau mungkin bosan melihat banyak orang yang tiba-tiba saja mau merubah dirinya untuk bersikap peduli dan sok santun pada semua orang. Pemilu bagi sebagian orang, bisa jadi adalah event yang identik dengan hura-hura, buang-buang uang rakyat, ajang saling menjatuhkan demi kekuasaan, dan buntutnya lagi-lagi rakyat yang dikecewakan.

Banyak juga pendapat yang sebenarnya cukup intelek namun tetap saja senada dengan keluh kesah di atas. Ada yang melihat fenomena pemilu tidak hanya dari kulitnya saja, sedikit merubah haluan yang kemudian meninjaunya dari sisi ideologis. Pemilu yang sebenarnya adalah sebuah “breakdown” dari sistem demokrasi, ternyata sudah memiliki cacat duluan. Dan lebih anehnya selama ini banyak masyarakat kita yang justru menikmati dan mengambil keuntungan dari kecacatan sistem ini.

Demokrasi berusaha untuk mengakomodasi semua kepentingan rakyatnya, tapi kenyatannya tidak mampu memberikan apresiasi pada nilai-nilai kualitas manusia. Bagaimana mungkin menyamakan suara antara seorang profesor teknik dengan suara seorang pemulung. Bagaimana mungkin menyamakan suara seorang ahli hukum dengan suara pencuri? Jika ini tetap bisa ditolerir, kenapa kita tidak mengganti saja para hakim itu dengan para maling ayam, bukankah ini sama saja di hadapan demokrasi. Aneh bukan…? Dan masih banyak alasan lainnya…

Eits, tapi kita belum selesai pada kesimpulan..kita belum selesai dengan pembahasan ini semua, karena jika kita sudah puas hanya dengan pembahasan di atas, sama saja dengan mengedepankan sikap apatis yang sebenarnya dari benih-benih apatis inilah muncul sikap ragu akan kebangkitan dan perbaikan bangsa ini ke depan. Jika anak mudanya saja sudah ragu dan tak mau berjuang, lalu mau dibawa kemana negeri ini ke depan, prenn!

Pemilu bisa jadi adalah aktivitas yang akrab dengan prasangka negatif dan nilai-nilai destruktif lainnya. Tapi pernahkah kita mencoba berpikir dari sudut pandang yang lain dan berusaha menimbangnya dengan adil dan objektif. Jika kita mau berpikir sedikit lebih rumit, seharusnya kita sadar bahwa pemilu sebenarnya adalah sebuah fasilitas yang diterimakan bagi rakyat dalam mengakomodasi hak dasarnya untuk berpendapat. Keluar dari konteks kualitas pemilih, harus tetap diakui bahwa hanya dengan pemilu lah, suara masyarakat diapresiasi.

Pemilu juga merupakan sarana untuk rekrutmen politik hingga setiap warga berkesempatan sama untuk mengisi jabatan politik di pemerintahan. Wakil rakyat yang dipilih dalam pemilu legislatif,terlepas dari hal negatif dari sebagiannya,idealnya kita sedang menerapkan teori tersebut. Orang-orang yang duduk di pos-pos strategis negeri ini, haruslah orang yang mempunyai integritas dan kapabilitas yang memadai. Bagaimana mungkin menyerahkan semua kewenangan tadi pada orang yang sembarangan, sama saja dengan bunuh diri. Jikalau kita sudah “muak” dengan berita korupsi pejabat, maka pemilu memberikan kesempatan bagi kita buat memperbaikinya.

Selain itu semua, pemilu pada dasarnya merupakan sarana pergantian kekuasaan secara teratur dan damai, dan yang lebih penting dari semua itu adalah legitimasi dari masyarakat Indonesia sendiri. Enam nama pemimpin besar sudah pernah mencatatkan namanya di sejarah lembaga eksekutif negara ini. Dari seorang yang pandai orasi, militer, kyai bahkan seorang insinyur pun sudah pernah memoles kanvas pemerintahan negeri ini. Sudah selayaknya kita semua bersyukur atas ini semua. Semua pemimpin tadi telah menorehkan prestasinya masing-masing. Kini, kita semua berada pada posisi penikmat sekaligus juri. Menikmati semua hasil karya dan akhirnya memberikan penilaian atas dasar pertimbangan-pertimbangan dengan variabel-variabel tertentu yang bisa jadi antara satu orang dengan yang lain cukup berbeda.

Dengan demikian, demokrasi bisa jadi tidak semua yang terkandung di dalamnya adalah kebathilan. Masih ada nilai-nilai positif yang bisa jadi masih relevan untuk diterapkan pada suatu komunitas tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula. Pada dasarnya kita semua menginginkan perubahan. Kita semua sudah merindukan masa-masa kemakmuran dan kesejahteraan di kampung kita sendiri. Demokrasi dan pemilu bisa jadi bukanlah jalan terbaik, tapi kita juga harus berani jujur dan realistis, kita hari ini sedang menikmati demokrasi itu sendiri. Kita sedang menggunakannya sebagai sebuah batu loncatan guna perbaikan bangsa ini kea rah yang lebih baik.

Kita adalah pemuda bangsa, yang bukan hanya pandai menghujat dan menolak, terlebih dari itu, kita juga harus menyiapkan solusi dengan cara terbaik yang kita punya. Memilih pemimpin yang terbaik, untuk saat ini bisa jadi adalah instrument untuk mulai menapaki tangga-tangga kemakmuran tadi. Sedang untuk menapaki tangga itu, dibutuhkan pengorbanan dan proses. Manfaatkan peluang merubah bangsa ini dengan cara terbaik yang kita punya. Menggunakan hak pilih adalah salah satu hal yang paling dekat dan realistis yang hari ini kita punya. Kita sudah jadi mahasiswa pren…sudah saatnya setiap kekhawatiran, harapan, dan impian tentang negeri ini ke depan, kita wujudkan dengan hal-hal yang kongkrit. Pemilu [gak] penting, karena kita semua masih mempunyai stigma mengatif kepadanya, pemilu [gak] penting, karena kita adalah manusia yang belum bisa menghargai proses, dan pemilu tetap aja [gak] penting, karena kita adalah manusia yang takut mempunyai cita-cita besar buat merubah bangsa ini menjadi lebih baik.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 14, 2009 in Bijaksana

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: