RSS

Mengenal Pencipta Cinta

14 Jul

Mencoba menelisik  aktivitas yang terjadi di antara ruang-ruang  yang selama ini dijalani manusia. Begitu banyak orang yang diberkahi Sang Pencipta dengan berbagai kesibukan dalam tiap detik waktunya di dunia. Menjadi pengajar, menjadi pedagang, bertani, nelayan, atau pekerjaan-pekerjaan yang lain. Mereka semua serasa menikmati semua kenikmatan ini dengan suka cita kebahagiaan.

Tetapi dibalik itu, masih ada saja manusia yang sering mengeluh atas semua yang diterimanya. Terlalu sering mengeluh ternyata justru membuat akalnya tidak mampu berfikir dengan jernih. Keluh kesah yang terus dipupuk, akhirnya menyuburkan bibit-bibit keputusasaan dalam jiwanya. Mencari jalan lain dari jalan yang selama ini digunakan, tanpa pegangan karena hatinya telah dipenuhi kekecewaan. Saat-saat inilah yang berbahaya bagi manusia.

Secara tidak sadar, ia sedang mengarahkan pribadinya menuju jalan-jalan yang jauh dari petunjuk Sang Pengatur kehidupan. Merasa nyaman dan tenteran dengan segala jenis pelanggaran yang dibuat, merasa tenang jutru ketika berada di tempat-tempat yang seharusnya tidak dikunjungi, dan merasa bangga dan berprestasi ketika berktivitas jauh dari tuntunan yang seharusnya. Karena sifat dasar manusia, yang berkutub pada kebaikan dan nilai-nilai positif.

Kenapa manusia bisa berperilaku menyimpang? Sedangkan sifat dasar manusia adalah “penggemar” nilai-nilai kebaikan? Kenapa manusia bisa berperilaku jauh dari nilai-nilai kebaikan, padahal kooptasi jiwanya selalu berada di jalan Sang Pemilik jiwanya? Bisa jadi, manusia kurang mengenal dengan sebenarnya Sang Pencipta yang telah menganugerahkan begitu banyak kesempatan baginya. Bisa jadi manusia terlupa dengan Sang Pemberi cinta, yang menganugerahkan kasih sayang, yang hidup di dalam hatinya. Mungkin manusia lupa, bahwa Allah memiliki surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Begitu juga kenikmatan lain yang diciptakan olehNya.

Manusia terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa dirinya adalah bagian yang sudah diciptakan dengan pengaturan yang sangat rumit, detail, dan penuh keseimbangan. Terkadang manusia terhijab untuk mengetahui dan menghayati makna ketundukan kepada Allah karena adanya awan hitam menggumpal di dalam hatinya.

Dari poin inilah kemudian diketahui dan dijelaskan kembali, seberapa penting bagi manusia untuk mengenal Allah. Mengenal Allah yang Esa, yang telah memberikan banyak kesempatan untuk berkembang namun kadang disalah tafsiri oleh manusia. Allah yang memberikan rizky sehingga kehidupannya selalu berkecukupan.

Tidak lain dan tidak bukan, kepentingan manusia untuk mengenal Allahnya dikarenakan Dia adalah pencipta alam semesta ini beserta isinya. Dialah, Allah yang telah menciptakan ruang, waktu pun dengan segala kerumitan yang multikompleks. Selain itu, Allah menciptakan alam ini dengan berbagai hal-hal detail untuk memberikan pelajaran bagi manusia. Allah memberikan segala keteraturan, sehingga isi alam semesta ini bisa bertahan dari keamburadulan. Lalu kenapa manusia masih saja tidak mau taat?

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 14, 2010 in Bijaksana

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: