RSS

Siapa (lagi) berpeluang ?

20 Sep

Dalam sejarah panjangnya, negara ini pernah dipimpin oleh berbagai tokoh nasional dengan berbagai latar belakang. Dimulai dari duet maut nasionalis-sosialis Soekarno dan Hatta, kemudian berganti  militer yang sejarahnya banyak menghiasi lembar-lembar hitam bagi sebagian kelompok masyarakat. Belum lagi negeri ini pernah pula dipimpin oleh ulama hebat dan tidak tertinggal pula oleh seorang teknokrat penerbangan. Semunya mempunyai karaktersitik ukirannnya sendiri saat memulai pahatan-pahatan pengabdiannya terhadap negri ini.

Hampir semua komponen rakyat pernah mengirim dutanya sebagai pemimpin Negara. Mungkin tetap saja ada yang belum berhasi mengirimkan dutanya, misalnya dari kalangan budayawan, kalangan sekuler (karena belum kelihatan), buruh, atau yang lain lagi. Negeri ini saat ini sangat egaliter terhadap tokoh-tokoh baru yang bermunculan. Karena memang peluang itu dibuka dengan sangat lebarnya. Hal inilah yang kemudian mendorong berbagai kalangan untuk melakukan berbagai rekayasa agar menjadi tokoh yang dikenal : strategi penokohan.

Jika sejak proklamai negeri ini, tokoh-tokoh di atas adalah “pemahat-pemahat” hebat dalam sejarah, lalu siapa yang akan berpeluang berikutnya? Ini adalah salah satu pertanyaan usil yang tiba-tiba saja terpikirkan sejak mendengar perbincangan santai dengan Anis Matta pagi ini.

Jika belajar dari sejarah penaklukan dinasti Islam oleh Mongol yang akhirnya berhenti di Mesir, maka banyak hal yang telah terjadi saat itu. Pasukan Mongol yang di Baghdad dengan hebat membantai kaum Muslim, bukanlan pasukan yang tidak punya kekuatan. Sudah pasti kekuatan yang menyertai pasukan ini sangat dahsyat. Paling tidak, jika dilihat dari perspektif bentuk fisiologis, orang-orang mongol yang cukup pendek bisa memasung kepala orang timur tengan dengan sangat mudah, adalah isyarat betapa perkasanya mereka saat itu.

Namun ada suatu episode menarik yang terjadi. Dengan kekuatan yang sedemikian hebatnya, ternyata kekuasaan dinasti mongol di timur tengah tidak berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Bahkan, jika ditilik lebih jauh, ternyata keturunan Mongol yang berkuasa saat itu malah terhegemoni oleh Islam. Paling tidak hal ini bisa diindikasikan dengan banyaknya kawasan di selatan kawasan Arab yang akhirnya menjadi pemeluk islam, sebut saja di kawasan India dan sekitarnya.

Nah, inilah yang terjadi apabila suatu kekuatan yang hebat tidak disertai dengan narasi panjang. Sebuah narasi hebat adalah buah dari cita-cita yang terstruktur dengan rapi dan menjadi inspirasi. Ia adalah mimpi yang sanggup menghegemoni manusia sehingga langkah-langkahnya kian mantap dan orientasinya semakin jelas. Narasi ini adalah sebuah pandangan hari esok yang cemerlang sehingga nantinya, pemuda yang akan mengisi pos-pos penting di negeri ini adalah mereka yang sanggup menampilkan narasi hebatnya tentang negeri ini. Jika memang proyek narasi ini berhasil, wouw…dapat dibayangkan betapa serunya perang narasi yang esok bakal terjadi. Perang narasi ekonomi, narasi budaya, narasi pemerintahan, narasi kesehatan, narasi sains, dan narasi-narasi hebat lainnya.

Inti dari semua ini ternyata lagi-lagi menghenyyakkan jutaan pemuda di negeri ini untuk terus mengasah dirinya, menjadi narrator dan pelaku sejarah paling hebat. Menjadi yang pertama dan menginspirasi banyak orang untuk terus melakukan yang terbaik. Dengan demikian, peluang menjadi “pemahat-pemahat” sejarah di negeri ini, masih terbuka lebar bagi semuanya…Mari berjuang…!

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on September 20, 2010 in Bijaksana

 

4 responses to “Siapa (lagi) berpeluang ?

  1. nad

    September 22, 2010 at 2:38 pm

    pos-pos penting?
    kayaknya jabatan ga segitunya jadi tujuan dim,
    pos-pos pentingnya diganti tanggungjawab aja,

     
  2. dimasagil

    September 23, 2010 at 8:59 am

    idealnya… tanggung jawab ter-representasi dengan jabatan kan??

     
  3. Cahya Nugraha

    March 1, 2011 at 8:58 am

    Sedikit fanatik gpp ya, ……

    dari 6 Presiden RI, mungkin cuma-2 yang mjd Presiden dengan “tidak sengaja” atau motif Haus kekuasaannya relatif kecil dibanding 4 lainnya….
    yaitu Ir. Soekarno dan Prof. Habibie….dan you know i know, beliau berdua adalah orang Teknik….. Hidup Teknik lah pokoke!!!! hahahaha…..

     
  4. dimasagil

    March 9, 2011 at 12:36 pm

    wahhh…bahaya juga ni mas fris…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: