RSS

Tabligh Akbar Spesial

20 Sep

Masih dari KKN 127…

Ada salah satu acara unik yang sempat diselenggarakan dalam masa-masa puncak KKN kemaren. Acara yang didesain sebagai penutupan perhelatan akbar pameran kelapa “CE 2010” itu nampak semakin bernuansa kesalihan. Bertepatan dengan perayaan kemerdekaan RI ke-65, KKN 127 sempat mengadakan Tabligh Akbar bersama masyarakat. Tabligh Akbar memang acara yang biasa, hanya saja formatnya kali ini cukup berbeda, tatkala berhasil bersimbiosis dengan budaya setempat.

Jika kita perhatikan, format tabligh akbar biasanya hanya dibuka dengan hiburan berupa alat pukul hingga berlanjut pada acara inti, yaitu mendengarkan. Terkesan ini adalah format baku yang tidak bisa diganggu lagi. Sangat kaku dan bisa jadi membosankan bila pada acara intinya benar-benar hanya mendengarkan. Inilah barangkali yang memancing pada da’I muballigh untuk berkreasi, salah satunya ditemui di acara yang kami buat. Acara ini menarik, paling tidak bagi saya yang kali pertama melihatnya.

Setelah menuntaskan beberapa musik pukul dan nasyid dadakan ala anak-anak KKN, mulailah tabligh akbar mendapat kesempatannya. Sang mubaligh mulai naik ke atas panggung dengan beberapa peralatan yang beda dari biasanya. Kebetulan, mubaligh datang dengan beberapa rekan satu timnya. Jika biasanya,seorang mubaligh naek panggung dengan menenteng al-qur’an atau kitab tertentu, ternyata mubaligh satu ini tidak merasa cukup hanya dengan hal tersebut.

Kedua rekanannya, masing-masing membawa alat music organ dan sebuah kendang. Nah, mubalighnya sendiri ternyata membawa satu set wayang. Wuihhh…ni mubaligh mau ceramah atau maen wayang sebenarnya. Tapi, sapa disangka…justru inilah cara kreatif yang tadi kita bicarakan. Simbiosis mutualisme antara menyebar agama dan menjaga budaya.

Jika kita melihat sejarah penyebaran islam di jawa, sebenarnya wayang adalah bagian dari mozaik sejarah yang tidak bisa terpisah. Seorang shalih sekelas Kalijaga dengan cerdas menggunakan wayang untuk menarik hati masyarakat. Zaman kemudian berkembang dan entah kenapa masing-masing berdiri sendiri. Wayang sebagai content budaya berjalan apa adanya sebagai warisan sejarah, sedangkan penyebaran agama nampak kaku karena hanya berisi rangkaian kata berisi dalil dan hujah semata. Bahkan keduanya seakan-akan saling beradu pada sudut pandang tertentu.

Apalagi ditambah infiltrasi budaya dan gaya hidup barat yang semakin merasuk. Sering kali kita menemui banyak perkumpulan yang dihadiri masyarakat yang hanya berisi hiburan yang kadang berlebihan. Masyarakat lebih senang dengan pesta semalam dengan biduanita dan minuman-minuman penghilang kesadaran, mirip gaya hidup Belanda ketika menjajah nusantara.

Seakan menampik anggapan yang berbeda, ternyata tabligh akbar kali ini benar-benar menyatukan antara agama dan budaya, tanpa ada yang merasa diperdaya. Sang mubaligh dengan lihai memainkan wayang untuk menggambarkan watak manusia-manusia yang menjadi bahan ceramah agamanya. Diiringi dengan musik rakyat yang akrab di telinga, nampak masyarakat pun begitu terbawa dengan suasana yang dihadirkan. Jangan heran, jika kemudian tidak lebih dari 700 warga bisa datang walaupun malam itu sempat diguyur hujan deras.

Jika diperhatikan lebih lanjut, maka metode simbiosis ini sudah jelas keberhasilannya. Dengan cara ini, konten-konten agama tetap tersampaikan secara utuh. Keinginan untuk membawa  masyarakat pada pemahaman agama tidak ada yang terlewatkan. Pada sisi lain, budaya asli sebagai bagian dari kearifan local tetap terjaga. Di tengah arus infiltrasi budaya asing yang semakin kuat, wayang tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat, tanpa takut tergilas oleh zaman. Inilah efek berkait yang terjadi ketika simbiosis ini terjadi.

Tidak hanya itu, peluang untuk mengajak manusia pada kebaikan ternyata menjadi semakin diperlebar kesempatannya. Untuk menampilkan sebua ceramah agama dengan piranti budaya wayang ini, tentu saja diperlukan musikus-musikus wayang yang selama ini tidak pernah terpikirkan nasibnya. Dengan cara seperti ini, mereka pun akhirnya menjadi bagian indah dalam kanvas dakwah yang dibawakan sang mubaligh. Dengan cara seperti ini, dakwah tetap jalan, sedangkan budaya tetap menang atas zaman. Chayoo buat pak dalang…cip!

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on September 20, 2010 in Kisah

 

2 responses to “Tabligh Akbar Spesial

  1. cahyomastercahyo

    August 29, 2012 at 1:16 am

    assalamualaikum kk sampean tau caranya menghubungi mubaligh yang ceramahnya pake wayang ga???
    makasih…

     
    • dimasagil

      August 29, 2012 at 10:26 am

      nanti bisa saya kenalkan ke temen saya,,, soalnya dulu yang menghubungi temen..

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: