RSS

Air hangat dan gula: betapa mereka ingin memberi yang terbaik

27 Jan

Belajar dari matahari..

yang begitu mencintai titah tuhanNya..

senantiasa memberi…

Beberapa hari yang lalu, Allah memberikan kesempatan untuk kembali belajar kepada sebuah keluarga yang begitu santun. Rumahnya begitu sederhana, namun jika masuk ke dalamnya, maka akan tercium betapa semua anggota keluarga ini begitu kaya hatinya. Senyumnya selalu terukir indah kepada kami yang datang.

Mereka layaknya keluaga yang lain, mata pencahariannya adalah petani “penderes” nira kelapa. Sebelum bencana erupsi merapi akhir tahun lalu, mereka adalah keluarga yang cukup makmur. Buah dari keuletan dan ketelatenan dalam bekerja selama ini, memberikan efek positif bagi kehidupan ekonomi mereka. Paling tidak mereka bisa mengambil nira kelapa dan mengolahnya menjadi gula jawa dalam jumlah yang banyak.

Keluarga inipun begitu taat dalam beribadah. Rumah sederhana ini diisi oleh dua kepala keluarga, seorang ayah dan anak laki-laki yang sudah memberikan cucu bagi ayahnya. Keduanya selalu mengingatkan warga lainnya untuk shalat tepat pada waktunya. Menjadi tokoh masyarakat yang dikenal integritas amalnya. Datang paling awal di mushola kecil kampungnya.

Setiap kali kita datang ke rumah, pasti banyak hal yang ditemui disana. Mulai dari cerita yang sarat hikmah, kehangatan keluarga yang patut diteladani, hingga berbagai “amunisi” perut yang nampaknya selalu disiapkan untuk tamunya. Keluarga ini benar-benar begitu pandai memuliakan tamu yang datang ke rumahnya.

Namun…mereka pun layaknya manusia lain yang Allah akan uji karena imannya. Erupsi merapi kemaren membuat puluhan pohon kelapa miliknya tidak bisa diambil niranya. Debu vulkanik membuat pelepah kelapa menjadi tidak kokoh sehingga rawan untuk mengambil nira pada saat-saat itu. Alhasil, sandaran hidup mereka pun tiada.Kondisi yang sama juga dirasakan semua warga. Sawah-sawah tertutup debu sehingga merusak berbagai tanaman, bahkan padi yang siap untuk dipanen. Semua warga dalam kondisi tegang dan kepanikan, karena bencana sekaligus penghidupan yang hilang.

Pada kondisi yang runyam seperti ini, ternyata keluarga ini justru memberikan keindahan akhlaq yang luar biasa. Karena nira kelapa adalah sandaran hidup satu-satunya, maka sang ayah yang sudah berumur tua itu membulatkan tekad untuk tetap naik ke semua pohon kelapa yang tersisa. Sedangkan sang anak, bersama pemuda lainnya, memimpin ekspedisi untuk memperbaiki mushola kecil yang biasa digunakan warga yang rusak terkena pohon yang tumbang.

Itulah yang ditemui beberapa bulan lalu, ketika erupsi merapi sedang memuncak…

Hari ini…pohon kelapa yang menjadi tumpuan hidup keluarga ini belum juga membaik. Dengan kondisi seperti ini, nampaknya semua pohon kelapa ini baru akan normal kembali dalam satu atau dua tahun kedepan. Ketika mereka bercerita tentang semua ini, begitu nampak kesedihan mendalam yang dibalut dengan ketabahan menerima semua yang Allah berikan.

Tapi, lagi-lagi akhlaq mereka bersinar memberikan cahaya yang senantiasa memberikannya harapan. Ketika kedatangan ke rumah mereka beberapa hari yang lalu, senyum indah itu nampaknya tidak berkurang sedikitpun, keramahan dan kehangatan keluarga kecil inipun nampak sangat terjaga. Lihatlah bagaimana mereka memuliakan tamunya…

Sang istri dari ruang dapur, membawakan 4 gelas berisi air, kembali dengan senyumnya menawarkan kepada kami minuman. “Ayo nak…diminum, maaf hanya air putih” kata beliau. Saya sadar denga kondisi yang terjadi. Bergegas saya segera meminum air putih dalam gelas tadi. Tiba-tiba, hati ini terasa semakin trenyuh, ternyata yang saya minum adalah air putih hangat yang diberi gula sehingga terasa begitu manis. Begitu inginnya mereka memulikan kami saat itu, begitu inginnya mereka menyenangkan hati kami yang datang, dengan barang terbaik yang mereka punya. Padahal baru saja mereka bercerita tentang sedikitnya jumlah pohon kelapa yang masih bisa diambil niranya.

Saya tidak berani menatap wajah mereka beberapa saat.. masih tenggelam dengan kekaguman yang mendalam. Oh bapak..ibu…! dari apa Allah menciptakan hati kalian… melalui apa Allah memberikan tarbiyah yang sedemikian tingginya… Apa yang sudah membuat kalian begitu tinggi akhlaqnya… Betapa beruntungnya kami yang Allah temukan dengan keluarga ini….

Keluarga yang semakin teruji aklaqnya tatkala tak semua orang sanggup menanggung beban yang sama… Terima kasih bapak…

Semoga kelak hafidz menjadi cucu yang salih…!

Dan kami pun, izin untuk pulang… dengan iringan doa dari mereka. Mereka memang begitu kaya…

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on January 27, 2011 in Kisah

 

One response to “Air hangat dan gula: betapa mereka ingin memberi yang terbaik

  1. Little Kiara

    December 26, 2012 at 12:04 am

    Kisah yang menyejukkan hati…benar-benar inspiratif 🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: