RSS

Lika-liku berkawan

09 Mar

Salah satu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia adalah, bersosialisasi dengan manusia yang lain. Bersosialisasi dengan orang lain, bukan sebuah kebutuhan yang terlahir karena sebuah rekayasa atau motif tertentu. Melainkan ia adalah sebuah sense alami diciptakannya manusia dalam jumlah yang banyak. Berbeda dengan , sosialisasi dengan motif dan rekayasa, yang biasanya tidak pernah langgeng, sosialisasi yang didasari atas kepahaman saling membutuhkan biasanya menciptakan daya tahan dalam waktu yang mengagumkan.

Banyak termonilogi turunan dalam bersosialisasi antarmanusia, ada yang mendefinisikannya sebagai kehidupan bertetangga, persahabatan, rekan kerja, sahabat kecil, “cinta”, dan cinta yang sebenarnya. Tidak pernah ada yang membatasi terminology ini, karena semuanya berkembang sesuai dengan karakter kehidupan manusia.

Seseorang yang baru (read:pendatang) dalam lingkungan perumahan baru, mendefinisikan sosialisasi sebuah teknik untuk bertetangga dengan baik. Mengundang tetangga acara hajatan di rumah, mengundang dalam rapat RT, undangan ulang tahun anaknya, atau kegiatan lain.  Bekerja sama dalam acara bersih-bersih kompleks, atau acara tujuh belasan yang ramai di perumahan.

Remaja yang sedang menguatkan jati dirinya, merasa sangat hampa jika tidak mampu menampilkan jati dirinya ke hadapan karib seusianya. Sehingga, terkadang mereka harus mencari topeng yang lain agar bisa diterima dengan baik. Diantara mereka ada yang (mungkin) mendefinisikan sosialisasi sebagai bentuk persahabatan yang sangat kuat. Membuat agenda-agenda bersama, jalan-jalan, shopping, belajar bersama, bolos bersama, tawuran, atau yang lain.

Dalam konteks yang tidak kalah serius, muda-mudi mendefisikan kebutuhan sosialisasi mereka dengan berkenalan dengan lawan jenis dan memulai sebuah hubungan yang berawal dari sebuah kesepakatan. Kesepakatan untuk saling berbagi, saling memperhatikan, dan serangkain komitmen lain yang memang senagaja dibentuk secara personal. Selanjutnya, sama-sama menghormati kesepakatan dan komitmen yang dibentuk, dan mulai menjalaninya.

Jika dilihat kembali, maka semua terminology sosialisasi di atas, memiliki sebuah parameter yang jelas terkait keberhasilannya. Berkirim makanan  bisa jadi adalah bagian parameter keberhasilan bertetangga. Rela berkorban untuk sahabat, bisa jadi adalah sukses terbesar dalam menjalain tali sahabat. Atau mungkin, kesediaan untuk candilite dinner berdua dengan teman lawan jenis adalah bagian kesuksesan.

Nah, salah satu kunci semua keberhasilan tadi, ternyata dimulai dari sebuah proses yang disebut sebagai komunikasi. Komunikasi, secara bahasa berarti pertukaran pesan antar subjek komunikasi. Bukan hanya permasalahan pertukaran pesan. Lebih lanjut, sebenarnya komunikasi yang dimaksud terkait pemahaman terhadap pesan yang telah dikirim, sehingga yang terjadi adalah komunikasi yang simultan. Dalam bahasa yang lebih teknis, sering disebut sebagai komunikasi yang produktif.

Saya mengambil contoh sebuah terminology sahabat. Seorang sahabat yang baik, tentu saja sangat mengenal “lawan mainnya”. Mengenal karakternya, mengenal lingkungannya, dan serangkaian proses mengenal yang lain. Jika tahap ini sukses, maka proses saling mengidentifikasi dalam tahap mengenal ini akan berlanjut pada tahap berikutnya untuk saling memahami. Proses saling memahami ini tentu tidak kalah kompleksnya dengan proses sebelumnya.

Banyak hal yang memang akan terjadi. Mulai dari peningkatan frekuensi bertemu, berkomunikasi, hingga saling mengerti kelebihan dan kekurangan masing-masing, sekaligus memberikan penyikapan terbaik terhadap kondisi sahabatnya. Penyikapan inilah bentuk konkrit dalam teori memahami seorang sahabat.

Penyikapan yang terjadi memang diarahkan pada hal positif. Artinya, memang berdaya guna untuk masing-masing. Dalam bahasa yang lebih mudah, parameter yang tepat adalah kesediaan untuk menolong. Menolong, adalah sebuah kata umum yang masih memiliki banyak diferensiasi. Namun, diferensiasi yang sangat indah, yang berkilau dan menyentuh sampai relung hati adalah, kesediaan untuk berkorban.

Nah..lagi-lagi proses komunikasi sangat berperan dalam semua tingkatan tersebut. Sayangnya, tidak semua orang berhasil melakukan komunikasi dengan baik. Sehingga sering terjadi kegagalan komunikasi karena interpretasi yang beragam. Interpretasi yang beragam memang disebabkan banyak hal. Pesan itu sendiri, cara penyampaian pesan, atau media pengiriman pesan.

Keinginan untuk sampai pada keberhasilan komunikasi inilah yang terkadang membuat partner karib melakukan banyak hal. Ada diantaranya yang hanya dengan menjaga frekuensi, sudah cukup untuk membangun produktivitas. Ada yang hanya dengan sedikit mengalokasikan waktu bersama, sudah lebih dari cukup untuk menjaganya. Namun, tidak jarang pula, yang menggunakan cara-cara yang “ekstrem”.

Ada yang harus memulainya dengan sedikit membuat masalah, baru kemudian komunikasi simultan bisa terjalin. Sedikit menjadi lebih rendah karena harus menyesuaikan dengan rekan karib. Atau keluar dari kebiasaan , sehingga dirasa aneh. Hal ini tetap saja harus dilakukan dengan hati-hati, karena jika yang terjadi adalah “missed” yang justru berkahir keributan. Untuk kasus terakhir, berarti nasibnya lagi malang… Tapi jangan kecewa dulu,,

Apapun yang telah terjadi, pada dasarnya semuanya memberikan bekas yang sangat mendalam. Kesan yang begitu dalam terkadang baru bisa dirasakan ketika sudah jauh dari partner karib. Merasakan ada bagian yang hilang. Di saat inilah, semua cara-cara ekstrem tersebut menjadi sangat berkesan. Menjadi nilai pembeda yang bisa jadi nilainya lebih tinggi. Bayangan indah tentang karib tiba-tiba saja hidup dan begitu dirindukan. Inilah yang sebenarnya terjadi.

Nikmati saja apa yang ada saat ini.. Berusaha membuat kenangan indah dalam setiap aktivitas. Hingga kanvas hidup menjadi kaya akan warna. Tapi,,tetap saja jangan lupa minta maaf…

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on March 9, 2011 in Bijaksana

 

2 responses to “Lika-liku berkawan

  1. Gilang

    March 10, 2011 at 10:16 am

    hahaha fotonya…

     
  2. dimasagil

    March 10, 2011 at 4:32 pm

    he,,he,,kenapa gilang???

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: