RSS
Gallery

Power Handling BTS Telekomunikasi

09 Mar

Sebagaimana  yang sudah sama-sama kita ketahui, dalam sebuah system telekomunikasi seluler, sebenarnya terdapat beberapa pembagian fungsi kerja jaringan. Dalam terminologinya, dikenal istilah Mobile System atau User Equipment yang lebih tersohor dengan sebutan handset. Selain itu, terdapat teknologi akses dengan melibatkan gelombang radio dan stasiun pengolah, yan disebut Base Sub System (BSS).

Terminologi BSS pun semakin hari semakin berkembang kontennya. Ketika telekomunikasi 2G menyerbu, dikenallah Base Transceiver Station (BTS) dan juga Base Station Controller (BSC) sebagai bagian integral dalam sebuah system BSS. Keduanya saling terkoneksi secara bertingkat termasuk pada system di atas BSC.

Salah satu bagian yang nampak dalam teknologi BSS adalah kehadiran BTS telekomunikasi. Tidak seperti sinyal atau gelombang radio yang masih nampak absurd, wujud BTS begitu konkrit. Dipasang pada suatu area tertentu untuk mengcover ketersediaan gelombang di area tersebut. Sebagai stasiun pengirim sekaligus penerima, memang BTS mempunyai kinerja yang sangat berpengaruh. Perluasan jaringan, yang dilakukan sebuah operator telekomunikasi, tentu saja diindikasikan oleh fisik BTS yang juga tersebar.

Sebuah Base Transceiver Station (BTS) mempunyai fungsi untuk menerima akses telekomunikasi dari sebuah handset yang ingin berkomunikasi dengan pengguna yang lain. Dikenai proses pensinyalan dan juga pengiriman data menuju BSC untuk diolah lebih lanjut. Selain proses pengiriman dan penerimaan data, maka sebuah BTS juga bertugas untuk menghandle proses handover. Handover adalah mekanisme handling sebuah handset yang berpindah dari suatu area coverage BTS satu pada BTS yang lain. Hal ini tentu saja wajar sebagai bentuk tanggung jawab atas penyelenggaraan system seluler.

Untuk melakukan tugas berat tersebut, maka sebuah BTS tetap saja membutuhkan asupan daya berupa listrik. Asupan daya ini digunakan untuk menjalankan semua proses yang berkenaan dengan BTS tersebut. Dengan demikian, ketersediaan daya dalam operasional sebuah BTS menjadi bagian penting yang harus ada, kecuali operator memilih untuk merugi akibat blocking akses.

Melihat tugas yang begitu berat, maka idealnya sebuah BTS tidak boleh jatuh (failed). Jatuhnya sebuah BTS akan mematikan semua akses pada coveragenya. Dengan demikian, perlu dibuat sebuah mekanisme katahan daya agar BTS tetap hidup. Mekanisme teknis “elite” untuk menjaga pasokan daya dengan menjamin ketersediaan daya, hingga mekanisme penjagaan secara konvensional, untuk menjaga baterai BTS dari keisengan maling.

Sebuah BTS rata-rata mendapatkan pasokan daya dari listrik PLN. Sehingga, operator telekomunikasi, mau tidak mau harus tetap membayar kompensasi penggunaan listrik untuk menghidupi BTS pada PLN. Namun demikian, kadang ditemui aliran listrik mati. Nah, untuk menjaga agar BTS tetap hidup, maka disediakan sumber cadangan yang berasal dari generator set (genset). Dengan sensor tertentu, maka ketika listrik padam, maka genset akan otomatis menyala dala beberapa waktu hingga penanganan lebih lanjut.

Inila domain pengembangan energy yang terjadi pada operator telekomunkasi. Pada beberapa BTS yang berada di kepulauan, sangat rentan bila menyediakan genset pada blok BTS. Hal ini lebih didasarkan pada factor keamanan genset dari penurian. Sehingga, para operator mengoptimalkan penggunaan solar cell untuk melakukan charging pada baterai. Dengan demikian BTS akan berfungsi kembali.

Semua hal di atas, masuk dalam salah satu kategori gangguan pada BTS. Secara umum, gangguan pada BTS sebenarnya dibagi menjadi dua, yaitu internal dan ENVA. Gangguan internal, lebih dikarenakan akibat kerusakan atau error pada BTS system. Misalnya pengiriman data transmisi E1 (2 Mbps) yang bermasalah atau error pada modul dalam kabinet. Sedangkan ENVA adalah kerusakan akibat factor diluar kabinet. Misalnya saja, kebakaran, kehilangan power, atau yang lain.

Semua hal ini, berkat kecanggihan system remote, bisa dikontrol meggunakan peralatan elektronis dengan menerjemahkan beberapa alarm sinyal yang dipasang terhubung dengan sekian sensor yang ada. Termasuk pula alarm buka pintu blok BTS, yang sering terjadi. Alarm  buka pintu cukup unik. Indikasi buka pintu hanya diterjemahkan dalam 2 bahasa, maintenance dan kecurian…hmmh..

Bravo BSS Engineer…!

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on March 9, 2011 in Telekomunikasi

 

One response to “Power Handling BTS Telekomunikasi

  1. shanna

    April 4, 2011 at 1:03 pm

    siiiiiiiiiiiippppp….
    i like it

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: