RSS
Gallery

Sang Juara…tanpa Mahkota

06 Dec

Saya seorang anak sekolah menengah pertama.. jarak sekolah saya dengan rumah sekitar 20 km. Untuk sampai di sekolah, biasanya saya harus mendahului perjalanan panjang ini dengan sepeda sekitar 3 km. Maklum, desa saya belum dilewati bis antar kota saat itu. Sampai sekarang juga masih belum si..

Setelah sampai di penitipan sepeda, selanjutnya naek bus sampai ke kota, tepatnya di alun-alun kota. Untuk seterusnya jalan kaki sekitar 1,5 km hingga tiba di sekolah. Bila ingin pulang, harus jalan kaki dulu 1,5 km lagi ke terminal. Baru naek bis lagi hingga ke tempat penitipan sepeda dan, kita kayuh lagi sepedanya sampai rumah..

Jika lancar, biasanya berangkat dari rumah pukul 10.30 dan satu jam kemudian bisa lega bisa tiba di sekolah. Begitupun saat pulang, jika tidak ada hambatan, setelah bel pulang sekolah pukul 17.15 dibunyikan, harus segera menuju terminal agar tidak ketinggalan bis, dan sejam kemudian bisa segera makan di rumah.

Setiap hari kecuali hari Sabtu atau hari Libur aktivitas ini selalu dijalani, entah sedang panas terik ataupun sedang hujan gerimis. Entah apapun yang terjadi harus segera tiba di sekolah. Tidak usah repot-repot memikirkan terlambat, sekali saja ketahuan..wouww..hukuman guru BP siap menanti, sekaligus menambah catatan “dosa” di buku kuning. Dibawa ke kelas-kelas, sambil berikrar “saya tidak akan terlambat lagi”wkwkwkwkk…Paling tidak hal ini saya jalani selama satu tahun ketika masih di kelas satu.

Suatu hari, ibu yang masih bekerja sebagai guru SD harus pergi ke kabupaten untuk berbelanja suatu barang. Sebelumnya, di pagi hari sudah membuat janji untuk diantar ibu. Maklum,biar bisa menghemat beberapa lembar uang ribuan.

Sebelumnya, sampai sebelum pukul 10.00 ibu masih mengajar kelas seperti biasa. Segera setelah angka 10 tertunjuk oleh jam dinding, tiba-tiba perasaan mulai resah. Ibu belum juga usai mengajar di kelas. Ada apa gerangan??? Wajahku sudah berubah merah nampaknya, mulai takut jika terlambat, masuk kamar dan marah-marah di dalam kamar.  “Gimana Ibu nih…udah jam sekian…bisa dihukum nih..”. Hingga akhirnyasambil marah air mata tiba-tiba turun, bercampur antara tak kuasa menahan marah dan hormat, sambil melempar beberapa alat kosmetik ibu..

Tak berapa lama, ibu pun datang..dengan baju abu-abu khas guru sd datang juga ke rumah. Melihat anaknya yang mericuhkan tatanan ruangan, nampaknya ibu juga sedikit marah. “Ya sudah…ayo berangkat”,kata ibu. Kami pun naek motor, nampaknya ibu juga terbawa suasana, motor pun digas lebih kenceng dari biasanya.

Sampai di alun-alun kota, ternyata jam masih menunjukkan waktu 11.15. Nampaknya diriku bisa bernafas lebih lega. “Ayo bu…cepetan”kataku. Kami pun melanjutkan perjalanan setelah traffic light berwarna hijau. Melewati jalan yang biasanya kuarungi dengan dua kaki, hari ini nampaknya agak lega.

Hingga kemudian, tak seberapa jauh..aku merasa ada yang aneh dengan motor ini. Tiba-tiba saja setir ibu seperti bergoyang-goyang. Semakin lama, guncangannya juga semakin terasa.. “Oh…jangan sekarang please…!!!”. Benar saja perasaanku, motor yang kami kendarai memang bocor di perjalanan. Turun juga diriku dari singgasana istimewa hari ini..

Kulihat ban belakang sudah kempes habis tak berudara lagi…sama seperti harapanku siang ini untuk bisa datang tanpa terlambat ke sekolah. Saat itu, motor adalah kendaraan berat bagiku, jadi belum kuat untuk sekedar menuntunnya. Ibu juga yang akhirnya turun tangan.. membawa motor sambil berjalan menepi dengan mesin yang masih nyala, kami menyusuri jalan ke sekolah sambil mencari tukang tambal ban. Entah kenapa, aku merasa malu sekali..sudah pake seragam, eh malah dorong-dorong motor siang-siang.

Syukur, di dekat sekolah..ada juga bengkel motor. Setelah memasukkan motor ke bengkel kami sebenarnya cukup lega.. Baju putihku nampaknya tidak bisa berbohong. Basah oleh keringat selama perjalanan siang itu. Ibu pun nampaknya mengalami hal yang sama. Kami memutuskan untuk jalan kaki menuju ke sekolah.

“Nak..ayo makan bakso dulu, gak mau pa?” Tanya ibu padaku. “engak ah bu..udah masuk e..”jawabku. “beneran gak mau…?”ibu bertanya lagi. Beberapa kali sambil jalan kaki. Ibu memintaku untuk menemani makan bakso. Tapi, diriku tetap bersikukuh,aku tidak bisa ikut makan siang ini… “ya sudah..ibu sendiri aja”kata ibu. “aku berangkat bu..”kataku. Kulihat ibu menyeberangi jalan ke tempat lapak bakso di deket sekolah sendirian,dengan baju abu-abunya yang nampak formal. Tapi, diriku berjalan ke arah yang sedikit berlawanan. Aku harus tetap masuk ke sekolah.

Entah kenapa, perasaanku kali ini agak trenyuh…tiba-tiba air mataku menetes seiring langkah kaki yang memasuki pintu gerbang sekolah. Semakin masuk ke dalam, air mata ini kayaknya semakin deras saja… saking menahannya, aku sampai berkali-kali mendongak ke atas, biar airnya tidak tumpah ke pipi.

Nampaknya aku salah mengambil keputusan, hatiku masih saja memikirkan ibu yang makan sendirian di lapak bakso. Bagaimana jika ada apa-apa dengan ibuku? Bagaimana jika motornya bermasalah lagi.. Bagaimana dan bagaimana lagi???

Kebiasaan anak-anak luar kota saat itu, melaksanakan sholat dluhur di sekolah. Aku sedikit berlari segera menuju ke masjid sekolah. Masih saja sambil menahan air mata tadi, segera kulepas sepatuku, kukeluarkan sarung biruku, segera menuju ke tempat wudlu… Kupakai segera sarungku dan kurayakan sedihku sambil menghadap Tuhan. Ohh..tapi bayangan ibu belum juga hilang dari rekaat ke rekaat yang kuambil. Tiap kali rukuk, ada saja tiba-tiba air yang jatuh ke lantai masjid,dari ujung mataku. Hingga akhirnya selesailah ibadahku..doaku pun hanya satu.. “lindungi ibuku Ya Allah..” tiba-tiba saja segala keangkuhan tadi mengaku. Berjejalan ingin segera diucapkan kepada Allah, agar tenang hati ini.. Nampaknya teman sebelahku merasakan sesuatu, tapi biarlah..nampaknya aku sudah terlajur larut degan pengakuan jujur siang itu. Keputusanku benar-benar membuat hati bergejolak…

Bel masuk kelas tiba-tiba berbunyi..segera saja puluhan anak berseragam putih baru berangsur-angsur menuju kelasnya masing-masing. 1 C, kelasku saat itu..jam pertama ini akan kuhabiskan bersama untuk belajar PPKn. Begitu guru masuk,,semua murid sudah tenang,maklum..beliaulah salah satu penegak disiplin di sekolah. Entah apa sebenarnya bab yang dibahas hari ini, tiba-tiba guru yang satu ini berbicara tentang pengabdian seorang anak kepada orang tua. “oh Allah…apalagi ini…”. Terang saja, bendungan ini langsung saja berontak, tak kuasa menahan luapan air yang sudah tak sabar keluar dari sudut mata yang sudah kering tadi. Sambil kuusap-usap di lengan seragm kananku. Ohh..guruku, kenapa Bapak berkisah hal ini, inikah yang kau takdirkan untukkku hari ini Allah… tak lama guru PPKn bercerita, tiba-tiba beliau langsung pergi dan hanya meminta siswa mengerjakan LKS. Ohhh….

Menyesal sekali hari ini hidupku… kenapa begitu mudahnya kuambil keputusan yang begitu konyol..hanya sekedar menemani makan siang pun diriku tak sanggup mengalah dengan egoku sendiri..

9 tahun setelah kisah ini, aku bertemu denga kisah yang lebih hebat…

Menjadi seorang insinyur, adalah impian banyak orang.. dan wisuda adalah bagian penting dari symbol strata ini..banyak mahasiswa yang memimpikannya. Bisa berfoto dengan keluarga, mendapat bunga dari sahabat, adalah ceremonial yang tidak kalah berkesan dengan toga-toga itu..

Tapi hari ini, sahabatku mengikhlaskannya dengan begitu mudah.. aku tidak tahu seberapa lama hatinya berkelahi,tapi pada hari yang ditentukan, dia tidak datang… Tak ada foto bertoga, tak ada senyum temannya, tak ada bunga seperti lainnya.. Dia sedang mengabdi kepada orangtuanya…Dia benar-benar memilih bersamanya..

Engkaulah Juaranya kali ini…walaupun tanpa mahkota…T.T

Selamat…

Advertisements
 
8 Comments

Posted by on December 6, 2011 in Bijaksana

 

8 responses to “Sang Juara…tanpa Mahkota

  1. bowo soedadi

    January 5, 2012 at 3:29 pm

    Blogwalking, Nice post.

     
  2. purnamasari

    February 21, 2012 at 9:59 am

    Ini nyeritain diri sendiri dim?
    hemm,
    mahkota biasanya untuk raja, ternyata bisa juga untuk juara.
    sip sip
    ^^d

     
  3. dimasagil

    March 1, 2012 at 2:36 pm

    hmmhh…saat itu,,tapi ini saya buat untuk temenku juga lho…kayaknya diriku gda apa2nya…haduh..

     
  4. Helmy

    March 7, 2012 at 6:25 am

    Tadi awale aku kira kisah fiksi lho…. ternyata kisah nyata, 😀

     
  5. aerodest

    May 22, 2012 at 7:15 am

    keren kak dimas… itu ceritain siapa e? follow back @aerodest.wordpress.com

     
    • dimasagil

      May 27, 2012 at 12:21 pm

      Woouww… ada anak astronomi datang.. masih pengin bikin senjata des???

       
      • aerodest

        May 27, 2012 at 4:57 pm

        masih pak, masih banget. aku lg ambil riset ttg material, ntar kalo ada kesempatan mau ambil S2 ttg material buat senjata, hehe XD

         
  6. almoehad

    June 13, 2012 at 5:35 pm

    fotonya apik dim..
    kemarin tak unduh..

    tambahkan lagu ini utk lebih syahdu..hehe..
    http://www.4shared.com/mp3/75gd35Uq/senandung_ukhuwah-sigma.html

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: