RSS
Gallery

Tiga Senjata Pembuka Dunia

27 May

Rasanya bahagia sekali jika melihat seorang bayi yang lahir ke dunia. Tubuhnya yang mungil bisa jadi membuat terpikat bagi siapapun yang melihat. Jari-jarinya yang masing sangat lemah, menggoda untuk disentuh, bahkan bisa jadi ada sebagian manusia yang tidak percaya, jika manusia yang hari ini dilihat, dengan segala kekuatan, kelebihan, dan juga keahlian, semuanya dahulu memulai hidupnya dalam kondisi

yang sangat lemah secara fisik.

Terlepas dari kondisi setiap manusia yang terlihat hari ini, pada dasarnya setiap manusia yang lahir  ke dunia telah Allah berikan tiga buah senjata utama. Denga senjata ini, tiap manusia mulai memahami sedikit demi sedikit apa sebenarnya yang ada di sekitarnya. Tiga senjata ini tidak lain tidak bukan adalah penglihatan, pendengaran, dan juga hati.

Kita semua mengetahui bahwa tiap bayi yang lahir ke dunia selalau hadir dari perut ibunya. Tiap bayi yang lahir dikeluarkan Allah dari perut sang ibu hingga akhirnya dia bisa mengenal dunia sedikit demi sedikit. Bayi-bayi ini terlahir ke dunia dengan kondisi tidak mengetahui apapun. Mungkin kita boleh menyebutnya tidak berilmu sama sekali.

Jika dibayangkan kembali, memang hal ini benar adanya. Bayi yang lahir tentu saja belum tahu mana benda panas mana benda dingin. Jika dibiarkan tanpa perhatian, bayi ini bisa jadi sangat bersemangat menyentuh knalpot. Seorang bayi yang lahir, tentu saja belum tahu mana mangga mana durian. Pun sama, jika disuruh makan, dan kebutulan memilihi durian, bisa jadi tidak tahu kalo durian itu yang manis dagingnya, bukan kulitnya. Dan kekonyolan lain yang mungkin bisa terjadi. Allah tahu benar kondisi ini, sehingga allah karuniakan seorang bayi itu dengan “malaikat penjaga” yang bernama Ibu.

Terlepas dari itu peran Ibu yang sangat signifikan, ternyata tiap manusia yang lahir ke dunia tidak Allah biarkan dalam ketidakberdayaannya. Allah ilhamkan kemudian dengan tiga senjata tadi, pendengaran, penglihatan, dan juga hati.

Dengan pendengaran tiap manusia akhirnya mampu mendengar suara. Ibarat sensor suara, pendengaran dengan segala sistem penyusunnya akan menerima banyak masukan suara dari lingkungannya. Setiap manusia kemudian belajar. Merekam suara yang masuk, mengirimnya ke semua penyusun sistem pendengaran, hingga akhirnya sampai ke otak untuk diolah.

Pun tidak jauh berbeda dengan penglihatan. Sensor visual yang satu ini juga sangat bermanfaat bagi manusia. Dengan penglihatan yang baik, tiap manusia yang lahir ke dunia perlahan-lahan akan mengidentifikasi warna, kemudian akan meneruskannya, punsama akhirnya tiba di otak untuk diidentifikasi.

Kedua senjata yang pertama ini tentu saja sangat bermanfaat bagi manusia. Kita bisa membuktikannya dengan melihat cara kita belajar membaca. Bisa jadi saat Taman kanak-kanak, guri kita mengajari huruf alpabhet dengan pelan-pelan. Guru membunyikan sebuah huruf yang kemudian kita dengar sebagai A, Be, Ce atau suara dari huruf yang lain. Sistem pendengaran manusia menangkapnya, mengolahnya, dan kemudian menyimpannya di memori.

Sistem penglihatan semakin memperkuat pola belajar saat itu. Mata sebagai sensor pertama yang menerima, melihat bahwa setiap huruf  memiliki pola-pola unik yang berbeda. Masing-masing huruf mempunyai karakternya masing-masing. Lagi-lagi dengan koordinasi yang baik, semua masukan ini diterima dan disimpan oleh otak.

Ditambah dengan berbagai latihan, akhirnya setiap manusia mulai mengetahui apa itu huruf dan sanggup menuliskannya. Kemampuan seperti ini  lalu berkembang terus. Mulai mengeja frasa, mengenal kata, hingga merangkainya menjadi suatu kalimat yang mempunyai makna. Pun sama dengan cara belajar manusia yang lain. Kemampuan menghitung, menggambar, memahat, atau menari sekalipun, pada awalnya bermula dari dua senjata ampuh tadi.

Bukankah seorang professor, memadukan kemampuan-kemampuan kecilnya ketika menjadi doktor, lalu ketika  master, dan pula kemampuan sarjananya? Bukankah seorang yang mendapat sarjana memadukan kemampuan hebatnya dalam belajar di saat sebelumnya? Dan terus seperti itu, jika  ditarik sebuah garis  panjang ke belakang, semua kemampuan dan keahlian yang dipunyai manusia saat ini berawal dari dua senjata pemberian yang benar-benar dioptimalkan.

Menjadikannya manusia yang berilmu, manusia yang mampu mengenal lingkungannya, manusia yang mampu melakukan aktivitas, dan seterusnya. Pula sama pada kasus pengambilan keputusan atau pilihan-pilihan dalam hidup.

Hanya saja..setingan Allah tidak cukup sampai di sini. Tidak cukup manusia hanya dengan pandai, tidak lengkap manusia hanya dengan kemampuan verbal atau motorik. Tidak cukup manusia hanya dengan mengetahui pola dan karakteristik, lalu mengolahnya hingga menghasilkan karya yang lain.

Karena manusia perlu mengenal Sang Pencipta, maka Allah lengkapi senjatanya dengan hati. Kenapa harus hati? Karena hati adalah bagian unik yang di dalamnya bisa tersimpan banyak informasi tentang keimanan manusia. Dengan keimanan, manusia menyadari benar betapa pentingnya tunduk patuh di hadapan Allah. Perihal keimanan pula lah yang membuat manusia mau berjibaku di jalan Tuhannya. Perihal keimanan pula lah yang membuat semua aktivitas yang dikerjakan raga, yang diolah otak, yang awalnya dari pendengaran dan penglihatan, menjadi bernilai di mata Allah.

Dengan kata lain, kombinasi unik ketiga senjata ini benar-benar membuat manusia menjadi makhluk yang lengkap. Kemampuan meracik komposisi ketiga bahan baku kehidupan ini akhirnya membuat manusia menjadi insan yang bermanfaat dan berkualitas. Tidak hanya kualitas di mata manusia, tetapi berkualitas di sisi Tuhannya.

Sudah banyak kiranya, hikmah yang perlu diambil dari manusia yang tidak berhasil mennggunakan  tiga senjata ini. Bisa jadi ada orang pandai menari, tapi saat menari lebih memilih tanpa busana dari menutup tubuhnya. Bisa jadi ada orang berlatih kungfu, tapi digunakan untuk mencuri di malam waktu. Bisa jadi ada orang pandai membuat karya seni, tapi karya seni menjadi Tuhan baginya. Bisa jadi ada yang pandai mencari harta, tapi harta menjadi sembahan utama dalam kesehariannya. Atau pun termasuk orang berilmu, yang akhirnya ilmunya justru digunakan untuk menipu.

Inilah peluang kejadian dari tiga kombinasi senjata ampuh dalam kehidupan yang dimaksud. Tiap manusia akhirnya diberikan pilihan masing-masing. Ada yang pilihannya fujur dan ada pula yan taqwa. Semuanya punya akhir yang sebenarnya telah sangat jelas isyaratnya. Kembali kepada manusia..

Hanya saja Allah dalam isyaratNya yang lain juga mengungkapkan, bahwa ketiga senjata utama ini pada saatnya akan diminta tanggung jawab. Pendengaran, penglihatan, dan hati kelak akan diminta laporan. Masing-masing akan berkata di depan Allah, apa saja yang telah dilakukan, atas dasar apa semua perilaku dilakukan?

Bersyukur jika semua yang dilakukan masih dalam kerangka menghamba. Tapi apa daya bagi sebuah keterlambatan. Keterlambatan yang berbuah penyesalan. Sedangkan penyesalan kali itu sudah bukan termasuk dalam hitungan…

Mari menjadi insan yang cerdas, yang mempu meracik kombinasi tiga senjata dengan cara yang sebaik-baiknya.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on May 27, 2012 in Bijaksana

 

2 responses to “Tiga Senjata Pembuka Dunia

  1. Eki Rezki

    May 27, 2012 at 10:45 am

    sekali upload, langsung tiga tulisan nih..
    nice post! ^_^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: