RSS
Gallery

Kampus dan Tegaknya Peradaban

31 May

Sering kali nampaknya dalam tiap kesempatan pembahasan, tegaknya peradaban  adalah tema menarik yang memang benar-benar memberikan motivasi. Banyak buku dan tokoh yang membahas sehingga berkecimpungnya mereka merupakan penguat atas tema tersebut. Tema peradaban juga hangat dalam beberapa gerakan Islam yang mencoba merealisasikan secara perlahan.

Jika kita sempat membaca sekilas tentang bagaimana peradaban Islam dibangun, maka tidak bisa dipisahkan dari kisah sukses penyebarannya yang sangat panjang runtun sejarahnya. Dimulai dari perjuangan hebat Rasulullah yang menakjubkan, para khilafah rasyidah yang menyejarah, hingga kemunculan dinasti-dinasti yang mempunyai karakteristik masing-masing. Semua perjalanan tersebut membangun sebuah kisah tentang peradaban yang sempat hadir di muka bumi.

Tauhid adalah kunci utama penyebarannya. Semangat yang memicu pun tidak jauh-jauh dari hal itu. Menghilangkan semua ketundukan kepada siapapun dan menggantinya hanya ketundukan kepada Allah saja. Dengan semangat itu lah, satu wilayah demi wilayah dibebaskan kemudian dibangun dan dihidupkan kembali.

Ada bagian yang harus benar-benar diperhatikan ketika menilik kembali tentang bangunan kesejarahan kisah peradaban tadi. Dalam periode sejarah yang cukup panjang, pilar-pilar kecemerlangan kehidupannya dibangun dengan ilmu. Hal ini tidak perlu dipertanyakan kembali. Kemunculan para ilmuwan tangguh yang tetap memegang teguh kecintaan kepada Rabb adalah bukti paling jelas atas kisah menarik ini.

Mereka orang-orang yang cerdas namun tetap tunduk kepada Allah. Tidak sombong sehingga merasa hebat dengan meninggalkan sholat. Mereka tidak riya’ sehingga melupakan pentingnya menghafal ayat Al-Quran. Pula mereka tidak sinis, sehingga merasa tenang jika kecerdasannya tidak diikuti akhlaq yang baik.

Orang-orang hebat ini kemudian menginspirasi dan mempengaruhi banyak hal. Mereka hadir dan menjadi referensi atas pertanyaan ummat. Mereka kemudian muncul sebagai sosok yang layak untuk diteladani. Mereka hadir dan membangun sendi-sendi peradaban dengan karya-karya spektakuler. Saya pikir, kita tidak perlu meragukan kontribusi imuwan cerdas sekelas Al Biruni, Ibnu Sina, bahkan Ibnu Batutah yang termahsyur dengan petualangan-petualangannya ke beberapa penjuru dunia.

Jika diperhatikan lagi, semua tokoh-tokoh yang menyejarah tersebut memang memiliki keahlian yang sangat beragam. Namun ada satu benang merah kesamaan diantara semua tokoh tadi selain kualitas keimanan mereka. Hal itu adalah cara pandang dan sikap mereka terhadap ilmu. Lebih jauh lagi, boleh saja kita memperluas bahasan ilmu dengan kompetensi.

Inilah fakta menarik yang harus sama-sama dipahami tentang kehadiran mereka. Mereka adalah orang-orang hebat yang benar-benar berilmu. Ada pemahaman utuh atas proses empirik yang membuat mereka menjadi orang-orang yang paham. Kepahaman atas ilmu adalah sebuah prestasi tersendiri. Namun demikian, ujung dari keseriusan ini adalah prestasi atas kontribusi mereka dengan ilmu. Bukan sekedar penghargaan, pujian, sanjungan, atau nama yang sering kali dielu-elukan karana keberhasilannya atas pencapaian tertentu.

Inilah salah satu kunci keberhasilan yang menjadi dasar atas kecemerlangan peradaban. Tanpa menafikan kerja keras pengelolaan pemerintahan oleh para khalifah, kerja keras para ulama yang membimbing ummat, juga kesetiaan dan kepatuhan ummat kepada pemimpinnya, kontribusi ilmu merupakan warna tersendiri yang tidak akan pernah terhapus.

Selanjutnya kita beranjak pada keadaan hari ini…

Semangat untuk menghidupkan sendi-sendi peradaban tentu tidak bisa terlepas dari pentingnya penguasaan atas ilmu. Tentu tidak bisa dilepaskan dari urgensi untuk memperoleh kompetensi yang bermanfaat. Bukan hanya untuk mendapatkan prestasi yang membuat terkenal secara pribadi, namun juga prestasi atas pencapaian luar biasa kontrbusi dan kemanfaatan. Kemanfaatan yang tidak hanya memberikan pengaruh atas kebaikan, namun juga melipatgandakannya.

Disinilah akhirnya kampus menunjukkan peran pentingnya. Di tempat yang banyak berkumpul pemuda dari penjuru negeri, dengan motivasi besar untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya. Maka kampus merupakan tempat yang signifikan dalam pembangunan salah satu pilar peradaban. Di tempat inilah peluang besar untuk menguasai ilmu dan mengaplikasikannya dibuka seluas-luasnya.

Kampus merupakan tempat yang strategis untuk membentuk karakter personal yang menawan. Karakter atas keilmuwan yang mumpuni, karakter untuk berprestasi yang bukan semu, karakter untuk senantiasa menjadi insan yang bermafaat. Dilengkapi dengan ketersediaan sarana di kampus untuk membentuk pondasi iman dan akhlaq.

Kelengkapan “fasilitas” yang dimiliki kampus seperti ini merupakan sebuah aset yang sangat berharga. Aset berharga ini dilihat dari keberhasilan  kampus untuk mengkombinasikan iman, ilmu, dan akhlaq sehingga mempunyai nilai yang sangat mahal. Eksistensinya bisa jadi adalah pertanda kehadiran peradaban yang sudah lama diimpikan. Keberlangsungan kehidupan kampus merupakan peluang besar untuk menjaga mimpi yang layak untuk direalisasikan.

Sayang rasanya jika pemuda-pemuda harapan bangsa, yang kelak di punggungnya akan disandarkan beban berat atas keberlangsungan tanah air dan cita peradaban, tidak berhasil mendapatkan ketiga fasilitas besar yang disediakan, tidak berhasil memformulasikan ketiga “menu utama” yang disajikan.

Tetap semangat.. dari kampus kita bangun peradaban…!!! dengan ilmu…Insya Allah..

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 31, 2012 in Bijaksana

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: