Dulu.. kita berpeluh untuk melahirkan KMT

Dulu… kita apa adanya dan seadanya

Dulu… banyak kisah lucu yang lahir dari keluguan seseorang, dan

taktik jenius yang gagal

Dulu kita berdarah-darah

Dulu air mata sempat tumpah dari wajah-wajah

Yang kita kenal sangat tegar dan ramah

Air mata yang tumpah karena emosi dan tak berdaya

melihat beban dakwah yang teramat berat

Tetapi…telah kering tinta-tinta, dan

telah diangkat pena-pena

Dakwah ini akan tetap berjalan

Apapun yang terjadi

Dan tetap melangkah adalah jalan yang terbaik yang dapat dilakukan

Walau hancur diri ini, dan

Walau kita tak sempat melihat hasilnya

Sebanyak apapun luka dalam diri kita

Selemah apapun diri kita, dan

Sekacau apapun kondisi kita

Demi wajah nan Maha Indah

Dimana semua makhluk mengharapkannya

Demi taman-taman surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya

Demi seorang Rasul

Pribadi terbaik yang pernah dilahirkan di dunia

Demi Islam dan Qur’an

Dimana bumi merindukan cahayanya, dan

Demi orang-orang yang tegar menjalani jalan berat ini

Dengan segala penderitaan, kesedihan, kekuatan,

harapan, kenyataan, cinta, luka dan kesendiriannya

Kabarkanlah Islam ini di hatimu

Maka suatu saat dia akan tegak di muka bumi

Ya…Allah…Saksikanlah

Bukankah kami telah menyampaikannya

Adalah sebuah sunatullah bahwasanya setiap manusia akan mengalami berbagai rangkaian uj coba dan tantangan dari Sang Rabb yang memiliki alam semesta sebagai bentuk cara yang Allah berikan kepada manusia justru untuk meningkatkan kapabilitas dan kredibilitasnya sebagai hamba yang harus secara ikhlas beribadah kepada-Nya. Setiap ujian pada dasarnya adalah sebuah medan jihad yang harusnya dimaknai sebagai tempat berlatih untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Adakalanya kita semua diuji dengan berbagai hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bisa jadi suatu hal yang secara “perhitungan” manusia tidak terjadi pada kenyataannya melakukan fungsi berkebalikan dengan aksioma realita. Suatu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya malah “kejadian”.

Ketika ketika sedang mendapati diri kita dalam keadaan kekurangan atau kesedihan, maka ujian Allah sebenarnya sedang mentarbiyah kita semua agar menjadi hamba yang tegar dan mampu bersabar. Menjadi hamba yang sebenarnya bisa berbuat lebih banyak lagi dari sebelumnya. Menjadi hamba yang harus lebih produktif dan berguna bagi lingkungannya. Terkadang pula yang demikian adalah isyarat dari Allah mengenai setiap perilaku kita yang terkadang kita sendiri tidak menyadari telah keluar dari As-sholah. Diri ini sedang dididik kembali oleh Allah agar tidak menjadi manusia yang lupa diri dan angkuh.

Terasa sakit dan tidak mengenakkan memang, (more…)

Malam ini saya ada agenda hingga pukul 11 malam. Sebenarnya pingin segera pulang, tapi beberapa jam yang lalu saya mendapat pesan singkat untuk segera datang ke gedung GSP mala mini juga. Ada apa gerangan di GSP? Yah…karena hari-hari ini adalah waktu buat registrasi mahasiswa baru di kampus, jadi hampir semua organisasi kampus sibuk dengan acara penyambutan MaBa. Seakan tidak mau kalah, berbagai elemen gerakan mahasiswa pun turut ambil bagian dalam momen ini. Sekedar menunjukkan eksistensi atau mungkin lebih akrab dikenal sebagai pencitraan lembaga bahwa yang ada di kampus ini bukan hanya manusia-manusia yang “gila” dengan akademis, tetapi juga manusia muda nan cerdas yang juga bersiap untuk mengangkat dan memperjuangkan bangsanya hanya saja melalui sudut pandang perjuangan dan paradigma yang berbeda. begitulah mahasiswa, selalu kaya akan inovasi dan mempunyai kekuatan untuk berdinamisasi dengan keadaan yang menyelimutinya. (more…)

Hari ini saya kembali ke Madiun. Kira-kira pukul 19.15 bus membawa saya keluar dari terminal Jogja. Seperti biasa dan tak ada yang berubah, saya duduk di dalam bus sendirian diantara puluhan bangku yang kosong, sedang bus pun seakan bersikap acuh dengan kedaan ini terus saja melaju dengan kecepatan cukup tinggi standar bus malam. Di tengah perjalanan saya masih sempat menghubungi seorang temen akhwat untuk minta tolong mengkopikan sebuah draft (afwan ya Mbak, saya tahu mbak juga capek, walaupun akhirnya draftnya ga dipake) dan menyempatkan diri membaca beberapa halaman buku. Perjalanan tetap saja seperti itu, terkadang membuat saya sedikit mengantuk…membosankan karena tidak ada pengamen atau seseorang yang duduk di sebelah saya untuk sekedar berrtukar cerita.

Sekitar pukul 00.00 saya sudah tiba di terminal Madiun. Oh…betapa leganya. Aroma kota kecil ini begitu khas, keadaan di terminal pun cukup tawadhu. Tapi, saya cukup bahagia bisa kembali menginjakkan kaki ini di tempat yang sudah banyak memberikan kepada saya pelajaran yang unik dan tak akan pernah bisa terhapus dalam memory saya sendiri. Sayang…malam itu saya tidak bisa menginap di rumah Madiun. Orang tua menghendaki saya untuk segera pulang ke kota kelahiran. Yah…tak jadi masalah sih.. tapi jujur saya masih belum puas dengan prolog ini, terlalu singkat dan tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya menggunakan 20 menit saya untuk untuk jalan-jalan di lobi terminal yang sebenarnya keadaanya pun cukup hening. Sebagian besar pertokoan telah menutup pintunya seakan tak mau menatap wajah saya yang kusut kecapekan. Hanya tertinggal beberapa pedagang yang memang berjualan nasi pecel hingga esok pagi. Hingga akhirnya saya harus kembali naik bus dengan berat hati ke Ponorogo (oh…bapak..Ibu..kenapa ga pindah aja ke madiun?) perjalanan sepi dan sendiri ini kembali terulang, setengah jam terlampaui begitu saja, sedikit beda, busnya kali ini lumayan penuh. (more…)

“ Tiga amalan yang Allah menyukainya, mereka yang shalat tepat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, dan berjihad di jalan Allah”

Sebuah cerita menarik, bagi temen-temen yang belum sempat membaca.

Ayah, Penyesalan Tak Bertepi

Entah kenapa sejak kecil saya tidak begitu dekat dengan Ayah. Saya lebih sering bermain dan merasa lebih nyaman bersama Ibu. Dengan ayah, hubungan itu terasa begitu kaku. Terlebih beliau sering memarahi dan memukuli saya sewaktu kecil. Hingga SMA, saya masih merasa Ayah tak seperti ayah-ayah lainnya. Ibu sering mengingatkan saya perihal sikap saya yang kurang bersahabat dengan ayah –saya sering ngeles jika disuruh,sering melawan dalam hati dan lainnya. Entahlah, jiwa muda saya waktu itu membenarkan apa yang saya perbuat.

Hingga saya lulus SPMB di Fakultas Kedokteran (FK) negeri. Ketika tahu saya lulus, Ayah begitu bangganya dan selalu bercerita kepada siapa saja bahwa anaknya telah berhasil masuk FK. Saya bertanya dalam hati, benarkah beliau bangga? Bahkan beliau mengadakan syukuran dengan mengundang banyak orang. Lalu ketika akan mendaftar, beliau juga yang bela-belain menemani, padahal beliau sama sekali tidak tahu universitas itu dimana. Saya dibuat bingung dengan sikap beliau. Mungkinkah saya yang terlau perasa selama ini.

Waktu berlalu, sekali sebulan saya pulang ke rumah. Ketika di rumah saya tetap lebih sering betukar cerita dengan Ibu. Dengan Ayah? Jarang sekali. Entah kenapa, rasanya susah dekat dengan beliau. Sampai suatu ketika, Ibu menyampaikan keluhan Ayah, “Si Buyung kita itu, kalau pulang tidak pernah tersenyum pada awak”. Saya tersengat. Saya mengira selama ini beliau tidaklah perduli. Tapi ternyata saya telah membuat hatinya terluka. Pernah juga ketika siang-siang pulang kuliah, saya melihat vespa hijau tua terparkir di depan rumah kos. Saya bertanya-tanya, mungkinkah ayah ke sini? Ada apa? Saya melihat wajah tua yang begitu lelah terduduk di depan pintu. Ternyata beliau menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer hanya untuk mengantar sambal untuk saya. Hati saya benar-benar menangis dan tergugu. Lantas beliau pergi tanpa sempat masuk ke dalam dan minum seteguk air.

Awal 2005. Nestapa itu datang. Ayah dirawat diRumah Sakit. Ya Allah hamba belum sempat membalas jasa beliau dan minta maaf. Ketika akan pulang kampung, sampailah berita itu: Ayah telah pergi. Hati saya teriris. Berdarah-darah. Untuk pertama kali saya menangis untuk Ayah. Saya merutuki diri: kamu memang durhaka! Saya bahkan belum sempat minta maaf. Ayah mengajari saya melukis dari kecil. Mengajari sastra dan mengajari bisa ke sawah. Ayah sering membantu membuat pe-er saat SD. Kenapa setelah engkau pergi saya baru ingat jasamu. Mengajari untuk tidak berkata-kata kotor. Betapa hebat dirimu sebagai Ayah. Membesarkan 9 anak. Rela melepas diri dari seprang guru menjadi petani hanya untuk mempertahankan idealisme. Setiap mengenang Ayah, hati selalu menangis.

(Tarbawi, edisi 172, 9 Muharram 1429)

Subhanallah…. Mungkin cerita ini tidak hanya di alami oleh saudara yang namanya tidak mau disebut tadi. Mungkin diantara kita juga ada yang merasakan dan mengalami hal yang serupa dengan beliau. Sungguh mereka berdua [ayah dan ibu] adalah sosok yang begitu berjasa, tanpanya wallahualam jadi apa kita saat ini. Masihkah kita bisa belajar hingga sejauh ini? Entahlah, toh…masih banyak anak muda yang kurang mau bersyukur dengan semua nikmat yang ada.

Kampus… entah terdefinisi dalam makna ruang ataupun suatu sifat adalah suatu tempat dimana masa yang melaluinya mengalami sekian banyak modifikasi entah dalam bentuk penyadaran maupun dalam tataran peningkatan kemampuan, akan setia berada dalam posisi yang strategis dalam setiap era perubahan yang menyertai tiap-tiap bagian dari kampus itu sendiri. Saat ini, kita lebih banyak berkata dalam tataran mahasiswa yang notabene menjalankan beberapa fungsi strategis itu, diantaranya sebagai iron stock yang akan selalu menjadi bagian pembaharu yang siap ditempatkan sebagai solusi atas permasalahan ataupun sebagai agent of change yang akan memberikan kontribusi terbesarnya bagi perubahan bangsa yang lebih progresif dan konstan.

Inilah yang kemudian saya sebut sebagai modifikasi sebagai penyadaran insan kampus akan tanggung jawabnya sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari setiap jengkal konektifitas dengan Rabb dan lingkunag sekitarnya. Selain sebagai bentuk penyadaran tersebut, adakalanya kita melihat suatu visi ke depan yang boleh jadi adalah suatu hal yang lebih ekstrem ketika kampus berusaha pula untuk mencetak output manusia sebagai director of change. Tidak hanya kemudian kita hanya berfikir sebagai pekerja untuk mengusahakan perubahan itu, tapi adakalanya sudah pula saatnya kita memperhitungkan kemampuan kita untuk menjadi pengendali dari perubahan yang kita upayakan itu sendiri. (more…)

Segala puji hanya bagi Allah, sedang shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita beliau rasulullah Muhammad saw.

“Maa kaana Muhammadun abaa ahadin min rijaalikum wa laakin rasulallahi wa khatamul anbiya…”

Muhammad itu bukanlah Bapak dari seseorang diantara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi. (Al-Ahzab : 40)

“Apakah kamu mengira kamu akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar” (Ali ‘Imran : 142)

Satu Juni 2008, bagi sebagian orang mungkin hari itu adalah hari-hari biasa. Seperti biasa, karena ini adalah hari Ahad, banyak yang memanfaatkannya untuk sekedar melepas kepenatan kerja bagi yang sudah bekerja, atau sekedar meregangkan syaraf dengan sedikit berolahraga atau justru hari itu banyak yang memanfaatkannya untuk belajar giat karena esok hari akan mengahadapi ujian. Tak jadi apa, aktivitas manusia memang sangat padat dan beragam, karena kita semua adalah manusia yang akan selalu dinamis dengan keadaan, Bergerak atau Tergantikan.

Tapi ada satu pemandangan yang cukup biasa ketika hari itu di Monas sedang banyak ditemui puluhan manusia berjubah putih yang selama ini lengket dengan sebuah perwajahan ummat Muslim. Ternyata Monas yang biasanya setiap Ahad pagi digunaakan sebagai tempat untuk berolahraga bagi sebagian warga Ibukota, juga ramai oleh puluhan ummat Muslim kala itu. Ada apa gerangan ? Aksi…Sebuah aksi untuk mencoba mengungkapan sebuah fakta dan realita yang terjadi dalam kehidupan beragama di Indonesia.

Kemunculan Ahmadiyah, yang sebenarnya sudah lama bercokol di Indonesia, (more…)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Segala puji hanya bagi Allah, yang telah memberikan kenikmatan cinta dan kerinduan pada ketenteraman jiwa dan fikr setiap kita yang ada di dunia. Yang telah menunjukkan keindahan dunia dalam ayat-ayat-Nya yang mulia. Yang telah membangunkan kita setiap hari dan akan mematikan kita di suatu masa kelak.

Shalawat dan salam senantiasa tertuju kepada engkau, rasulullah Muhammad saw. Manusia mulia yang begitu dirindukan setiap nasihatnya, bahkan kita semua selalu berusaha meneladani semua cara hidup beliau saw.

Alhamdulillah…

Allah telah memberikan yang begitu indah kepada ummat-Nya. Teringat akan suatu kisah ketika kita masih di SMA. Suatu tempat yang begitu banyak membawa cerita perjuangan dakwah dalam masanya masing-masing. Setiap langkah perjuangan saat itu, adalah bekal yang sangat melimpah untuk meniti perjuangan di aras yang lebih membutuhkan tenaga dan pemikiran. Sebuah aras yang akan membuat kita semakin sadar, bahwasanya kita saat ini sedang tergabung bersama barisan perjuangan yang syumul yang akan membawa perubahan yang signifikan bagi kehidupan ummat mendatang. Insya Allah.

Barisan dakwah yang saat ini sedang begelora oleh sejuknya angin perjuangan tiada bertepi. Sedang bersemangat tatkala bertemu medan dakwah baru yang lebih alot untuk dijalani. Tak usah berfikir panjang lagi, ini adalah jalan yang benar-benar jelas dan terang untuk segera ditangani secara berjamaah.

Kembali pada tempat yang telah mendidik kita semua menurut karakter dan sikap yang dimiliki oleh setiap kita. Mungkin banyak diantara kita yang pada awalnya bukanlah seperti apa yang kita rasakan saat ini. Kita berasal dari tempat yang berbeda, berasal dari lingkungan yang sungguh berbeda dengan variable sistem yang ada di masing-masing tempat. Mungkin ada diantara kita, dulunya bukanlah orang yang begitu mengenal tentang aras perjuangan dakwah ini, atau bahkan ada diantara kita yang [mungkin] adalah salah satu dari orang yang suka mengejek pada medan dakwah ini. Tapi…Allah punya rencana lain tentang kehidupan kita. Allah telah berkehendak bahwa kita adalah manusia yang tersibghah oleh cahaya keislaman yang begitu mempesona. (more…)

“ Wahai orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan ) di akhirat hanyalah sedikit.”

“Jika kamu tidak berangkat (untuk bereperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikitpun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Saudaraku Yang dirahmati Allah…

Apa yang ada di benak kita tentang dakwah yang begitu mulia? Yah…kita sadari inilah jalan yang begitu agung lagi suci. Inilah jalan yang pernah sukses menampilkan potret sebuah peradaban terbaik ke muka dunia. Dari rahim dakwah pulalah terlahir manusia-manusia tangguh dalam sejarahnya.

Kita semua sadar jalan ini bukanlah jalan yang mudah untuk ditempuh. Dalam perjalanannya, kita akan sering bertemu dengan ganasnya gelombang ujian. Dalam setiap jengkal perjalanannya, kita akan berhadapan dengan derasnya goncangan dan penindasan, entah dari musuh yang dengan bangganya menyuarakan penentangannya pada Islam atau bahkan dari “saudara” kita sendiri. Tak dapat dielakkan lagi, perjuangan yang begitu indah ini akan banyak memeras keringat dan bahkan darah dari para pengusungnya. Sungguh, ini adalah jalan yang penuh dengan onak dan duri halangan yang juga telah bersiap untuk menggerogoti para muharribnya.

Idealisme islam kita mengatakan, (more…)

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha ila Allah…..

Saudaraku yang saya cintai karena Allah…

Aduhh…hari ini saya merasakan kerinduan yang luar biasa kepada semua saudara-saudara saya. Luar biasa… Tetes air mata bercampur tawa(loh…gimana jadinya) bener-bener memenuhi ruangan saya malam ini. Saya mulai buka kembali file-file saya tentang saudara-saudara saya tadi.

Terkadang saya menyesal, ketika saya dulu dekat dengan mereka, saya masih jarang beraktivitas bareng mereka. Aduhh… sekarang baru ngrasain deh gimana rasanya ditinggal jauh sama temen-temen. Ada yang di Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja, Malang, Madiun dan saya kira masih banyak lagi yang laen yang belum tersebut(afwan ya..).

Saya teringat betul ketika malam ahad seperti ini, setelah isya saya udah nyiapain motor untuk kemudian melaju ke rumah Akh Bayu, “Assalamualaikum… “salam saya dari luar. “Waalaikumsalam…” itulah jawaban yang terdengar dari ibunya Akh Bayu, “Bu..Bayu_nya ada?”. “ Oh,,mas Dimas masuk Mas, Bayu ada koq…” Saya sampe inget bener bagaimana prolog sebelum masuk ke rumah akh Bayu. “Yek..siap durung…”. “Sabar…loz..sabar…”. Setelah beberapa menit kami dah siap buat keluar malem. Saya bonceng akh bayu, dan kami pun akhirnya puter-puter madiun. Di sepanjang jalan… setiap kami bertemu hal yang lucu kami langsung tertawa bareng(kenceng lagi ketawanya). (more…)

Next Page »