Posted by: dimasagil | May 23, 2009

Beranjak…

Sebuah kabar kemudian begitu saja menyeruak ke tengah-tengah segumulan manusia yang kebingungan. Hegemoni dunia akan kesenangan pesta terkadang membuat lupa sudah sejauh manakah hari ini posisi kita menlangkah. Entah kita sedang lupa atau memang sengaja melupakannya, semuanya begitu cepat berlalu, masa depan seakan begitu cepat akan tergapai…
Dimana posisi anda hari ini? Sebenarnya ini semua bergantung pada niatan anda di awal waktu. Jikalau hari ini anda sedang bersibuk ria dengan dengan semua aktivitas anda, wajar…mungkin anda dahulu berazam dengan sebuah cita yang tinggi menjulang…cita anda begitu luhur dan anda begitu focus padanya. Semua waktu anda, tercurah untuk mendapat hasil yang begitu sempurna…luar biasa…
Tidak ada yang salah dengan semua hal ini. Setiap manusia memang harus berkarya. Berkarya akan membuat manusia tergerak dan berupaya. Karya yang anda lakukan hari ini adalah buah dari sebuah visi besar dan agung sesuai dengan kacamata yang hari anda pakai. Setiap hentakan kaki dan tarikan nafas yang hari ini kita ambil, adalah sebuah kerja besar yang akan tertransformasi dalam sebuah hasil nyata di kemudian hari. Wouw…betapa bersemangatnya kita hari ini?
Lalu apalah kita semua…suatu hari datanglah saudara anda. Sekedar mengirim sebuah pesan singkat, basa-basi yang sebenarnya tak cukup banyak memberikan arti. Lalu anda pun menjawab dengan suara yang tak kalah jauh dengan sahabat anda. Hal ini terulang berkali-kali…Semuanya terjadi begitu saja tanpa ada waktu tersisa untuk sekedar merenung, kenapa semua ini hanya seperti ini…
Hingga akhirnya, sahabat anda dalam pesannya yang kesekian kali. Berucap bahwa ia sedang merindukan masa-masa dahulunya yang begitu riang. Ia berucap, bahwa ia sedang gundah, iri dengan semua pekerjaan yang hari ini telah anda lakukan. Akhirnya ia berucap bahwa ia telah terpaut jauh dengan anda. Ia merasa hari-harinya berlalu begitu saja…ia telah terperangkap dalam penjara dunia yang sebenarnya bisa dicegah.
Lalu apalah anda hari ini…sahabat anda mengungkapkan apa yang terjadi selama ini. Ternyata…anda begitu dirindukan olehnya. Sahabat anda begitu berhasrat bertemu dengan anda. Ia telah kesasar selama perjalanannya selama ini. Ia telah berhamburan entah kemana jiwanya. Ia berucap jujur pada pesan-pesannya pada anda, bahwa ia telah berbeda. Pikirannya entah kemana…
Lalu apalah anda…yang tetap sibuk denga urusan anda, yang hingga hari ini masih repot dengan berbagai agenda yang tak tahu kapan dan dimana ujungnya. Ternyata anda begitu berhusnuzon pada sahabat anda. Anda terlalu percaya bahawa sahabat anda akan baik-baik saja. Pesan-pesan keresahannya selama ini tidak mampu menghentikan anda barang sejenak, bahwa disana…sahabat anda sedang kesepian dan kebingungan entah mau kemana jalannya…
Apakah anda bangga dengan segala prestasi anda hari ini? Semangat anda dan prestasi anda hari ini ternyata begitu mahal, dan sangat mahal. Harga yang anda bayar atas semua yang hari ini anda raih. Harga yang harus anda gadaikan dengan segudang cakrawala dan makna. Bersapalah dengannya…siapa tahu sahabat anda belum melupakan anda. Siapa tahu sahabat anda belum mengubur harapan dan asanya akan indahnya karunia pernah berjumpa dan berkenalan dengan anda.
Segeralah berkemas,,,dan kembali buka kenangan anda. Segeralah bergegas, kembali bersapa dengan sahabat anda. Karena jika tidak, hanya akan berlari di tempat. Perjalanan anda hanya kana berputar-putar, hingga akhirnya anda akan lelah, dan kebingungan. Ajaklah teman anda untuk bersama-sama mendaki puncak kejayaannya. Karena anda tidak akan betah, berada di puncak prestasi hanya ditemani sendiri. [ afwan akhi…]

Posted by: dimasagil | March 14, 2009

Bermujahadah pada kemenangan

Enam Puluh Tiga tahun telah berlalu sejak pagi itu, pagi hari yang kemudian berhasil mencatatkannya dalam sejarah penting bangsa ini dalam menapaki tiap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan mengatur negeri sebesar dan semegah Indonesia. Deretan nama-nama manusia yang berhasil menempati posisi kepemimpinan sipil tertinggi di negeri ini pun tidak akan pernah terlupa dan memang tidak patut dilupakan, karena mereka semua telah memimpin dengan karakternya masing-masing. Dari tokoh kharismatik yang pandai berorasi, tokoh militer, dan kyai bahkan hingga insiyur canggih yang diakui dunia, semua itu adalah bagian indah dari harmoni sejarah bangsa ini.

Dari keenam presiden yang telah memimpin bangsa ini, semuanya telah menunjukkan pengabdian optimalnya kepada bangsa. Dengan segala kekurangan dan prestasinya, harusnya kita tetap bersyukur karena telah dianugerahi pemimpin sekelas mereka semua. Tetapi proses perbaikan bangsa ini tidak boleh berhenti pada koordinat ini saja. Sebagai warga negara yang baik, tentu kita mengingkan negara ini mencapai tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang didamba. Tetapi pengabdian kita kepada Allah mengisyaratkan kita agar bercita-cita luar biasa yang bisa jadi ini adalah hal gila bagi sebagian orang. Menjadi rahmatan lil ‘alamin, yang hari ini kita terjemahkan sebagai Ustadziatul Alam. Ada kepentingan bagi kita semua untuk menjadikan Islam sebagai guru peradaban yang akan memberikan kemakmuran dan perlindungan bagi semua penghuni dunia.

Memilih pemimpin terbaik, bisa jadi adalah instrumen yang hari ini kita pergunakan untuk mewujudkan semua cita-cita ini. Read More…

Posted by: dimasagil | March 14, 2009

Antara PHK dan Keguguran Kandungan…

Adalah Pak Darwito, seorang pekerja di suatu pabrik di Jawa. Beliau ini adalah seorang pekerja yang sangat rajin, bahkan managernya mengatakan jikalau Pak Darwito ini adalah pekerja yang tidak pernah melekukan kesalahan. Selama ini kehidupannya bisa dikatakan cukup, tinggal bersama seorang istrinya di rumah kontrakan yang damai.

Kisah ini tiba-tiba berubah. Suatu hari Pak Darwito sudah tidak lagi dapat ditemui di pabriknya. Beliaunya ternyata sedang asyik berjualan asongan di perempatan jalan. Dengan topi putih yang mulai pudar karena sengatan matahari dan pakaian lusuh seadanya, beliau begitu “menikmati” perjuangan hidupnya. Ada apa gerangan? Tidak mungkin beliau bolos kerja (nggak banget…). Bukan juga pekerjaan sambilan yang dipakai sebagai tambahan keuangan keluarga.

Seorang “mbak-mbak” menghampiri beliau berniat ingin menanyakan alias tabayun. Perbincangan pun dilakukan dengan beliau di tepi jalan. Tak seberapa lama waktu tiba-tiba ada seorang bertubuh “gedhe” berisi dan berotot yang menghampiri beliau juga. Wajahnya bengis dan keliatan menyeramkan. Tiba-tiba saja orang perkasa ini bertanya pada Pak darwito dengan nada yang tinggi nan menakutkan, “hei..Dar, kapan mau bayar hutang?” spontan Pak Darwito juga kaget. Kaget dengan suaranya yang seram dan kaget karena tidak disaangka akan ditagih di tepi jalan. Orang perkasa ini pun marah, semua barang dagangan Pak Darwito dihamburin ke jalanan.

Emang resek tuh orang, Read More…

Posted by: dimasagil | March 14, 2009

Pemilu [Gak] Penting…??

Ketika mendengar kata “Pemilu” bisa jadi ada diantara kita yang kuping dan hatinya udah panas duluan. Bosan dan lelah dengan semua retorika yang tidak jelas arah dan tujuannya, atau mungkin bosan melihat banyak orang yang tiba-tiba saja mau merubah dirinya untuk bersikap peduli dan sok santun pada semua orang. Pemilu bagi sebagian orang, bisa jadi adalah event yang identik dengan hura-hura, buang-buang uang rakyat, ajang saling menjatuhkan demi kekuasaan, dan buntutnya lagi-lagi rakyat yang dikecewakan.

Banyak juga pendapat yang sebenarnya cukup intelek namun tetap saja senada dengan keluh kesah di atas. Ada yang melihat fenomena pemilu tidak hanya dari kulitnya saja, sedikit merubah haluan yang kemudian meninjaunya dari sisi ideologis. Pemilu yang sebenarnya adalah sebuah “breakdown” dari sistem demokrasi, ternyata sudah memiliki cacat duluan. Dan lebih anehnya selama ini banyak masyarakat kita yang justru menikmati dan mengambil keuntungan dari kecacatan sistem ini.

Demokrasi berusaha untuk mengakomodasi semua kepentingan rakyatnya, tapi kenyatannya tidak mampu memberikan apresiasi pada nilai-nilai kualitas manusia. Bagaimana mungkin menyamakan suara antara seorang profesor teknik dengan suara seorang pemulung. Bagaimana mungkin menyamakan suara seorang ahli hukum dengan suara pencuri? Jika ini tetap bisa ditolerir, kenapa kita tidak mengganti saja para hakim itu dengan para maling ayam, bukankah ini sama saja di hadapan demokrasi. Aneh bukan…? Dan masih banyak alasan lainnya…

Eits, tapi kita belum selesai pada kesimpulan.. Read More…

Posted by: dimasagil | November 4, 2008

Posisi Kelemahan…^_^

Kelemahan kita adalah titik awal Kekuatan kita sendiri. Sepintas kata-kata ini cukup aneh dan bahkan asing dalam benak manusia. Bagaimana mungkin kelemahan yang ada pada diri kita bisa menjadi sumber kekuatan yang cukup signifikan bagi diri kita, dan bahkan mungkin pada beberapa kasus yang lain akan mampu memberikan inspirasi kepada orang lain. Bagaimana sebenarnya logika yang terbentuk pada masalah ini?

Ada kalanya seorang manusia akan dihadapkan pada keadaan yang dilematis dalam hidupnya. Adakalanya pula manusia akan diuji oleh Allah dengan beberapa ujian yang bisa jadi aka membuat dirinya menjadi sosok yang lemah. Suatu saat mungkin kita pernah diberikan ujian berupa sakit oleh Allah tentu saja karena Allah begitu sayang kepada manusia.

Mari kita sedikit belajar dari hal tersebut. Bisa jadi saat kita sedang merasakan kesakitan yang begitu pedih, tiba-tiba hati nurani manusia merasakan dan memahami makna tauhid yang begitu tinggi bahwasanya dalam hidup ini ada Zat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang ada di dunia ini. Tiba-tiba kesombongan kita selama ini sirna dan berganti dengan sikap tawadlu. Saat-saat seperti itulah sebeanarnya kita sedang berada dalam posisi yang begitu dekat dengan Allah. Read More…

Posted by: dimasagil | September 5, 2008

negeErIku oh…negriku

Ratusan tahun telah berlalu… Adalah awal dari rentetan sejarah panjang perjuangan bagsa mengusir para kolonial, hingga akhirnya enam puluh tiga tahun yang lalu kita semua benar-benar terpukau dan tersujud akan keberanian bangsa ini menyatakan kedaulatan dan keterbebasannya. Sebuah pengakuan bagi jeritan panjang derita karena terus menerus diperah dan teraniaya tak berdaya. Perjuangan yang pada akhirnya membuat kain merah dan putih itu benar-benar berkibar dengan gagahnya di birunya langit nusantara. Sebuah perjunagan yang akhirnya membuat nada-nada Indonesia Raya berkumandang dengan syahdunya.

Kita semua masih mengingat betapa sakralnya hari itu. Sebuah hadiah besar pagi para manusia yang merindukan sebuah kemenangan dan kemerdekaan. Sebuah massa yang mampu melahirkan pemuda-pemuda tangguh sekelas Sudirman, yang ketika sakit parah, tetap memilih untuk melanjutkan gerilya bersama pasukannya. Atau juga seorang Soetomo, yang dengan berani membakar jiwa arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November, hingga ribuan nyawa tumbang di kota pahlawan. Tidak hanya itu, perjuangan panjang bangsa ini juga melahirkan tokoh-tokoh muda pemikir sekelas Hatta atau Natsir yang tak kalah gigih membawa bangsa ini menuju kemapanan cara bersikap.

Tak sadarkah kita bahwa apa yang hari ini bisa kita nikmati adalah berkat jerih payah mereka pula. Padi yang akhirnya menjadi beras dan kita makan, ditanam di tanah yang di dalamnya pernah mengalir darah mereka semua. Tanah yang hari ini kita pijak, adalah tanah yang telah bersatu dengan tulang-tulang manusia pemberani yang sukses mengantarkan bangsa ini hingga sejauh ini. Sudahkah kita lupa dengan semua ini? Ternyata perut kita pun bisa kenyang tak lepas dari mereka.

Entahlah…toh hari ini, rakyat di negeri ini lebih sibuk dengan urusan isi perut masing-masing. Para pemulungnya tetap saja asyik mengais-ngais sampah layaknya ayam kampung. Tak mau kalah, petugas satpol PP pun Read More…

Posted by: dimasagil | July 31, 2008

Puisi dari Pak Idham

Dulu.. kita berpeluh untuk melahirkan KMT

Dulu… kita apa adanya dan seadanya

Dulu… banyak kisah lucu yang lahir dari keluguan seseorang, dan

taktik jenius yang gagal

Dulu kita berdarah-darah

Dulu air mata sempat tumpah dari wajah-wajah

Yang kita kenal sangat tegar dan ramah

Air mata yang tumpah karena emosi dan tak berdaya

melihat beban dakwah yang teramat berat

Tetapi…telah kering tinta-tinta, dan

telah diangkat pena-pena

Dakwah ini akan tetap berjalan

Apapun yang terjadi

Dan tetap melangkah adalah jalan yang terbaik yang dapat dilakukan

Walau hancur diri ini, dan

Walau kita tak sempat melihat hasilnya

Sebanyak apapun luka dalam diri kita

Selemah apapun diri kita, dan

Sekacau apapun kondisi kita

Demi wajah nan Maha Indah

Dimana semua makhluk mengharapkannya

Demi taman-taman surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya

Demi seorang Rasul

Pribadi terbaik yang pernah dilahirkan di dunia

Demi Islam dan Qur’an

Dimana bumi merindukan cahayanya, dan

Demi orang-orang yang tegar menjalani jalan berat ini

Dengan segala penderitaan, kesedihan, kekuatan,

harapan, kenyataan, cinta, luka dan kesendiriannya

Kabarkanlah Islam ini di hatimu

Maka suatu saat dia akan tegak di muka bumi

Ya…Allah…Saksikanlah

Bukankah kami telah menyampaikannya

Posted by: dimasagil | July 31, 2008

Semangat lagi…

Adalah sebuah sunatullah bahwasanya setiap manusia akan mengalami berbagai rangkaian uj coba dan tantangan dari Sang Rabb yang memiliki alam semesta sebagai bentuk cara yang Allah berikan kepada manusia justru untuk meningkatkan kapabilitas dan kredibilitasnya sebagai hamba yang harus secara ikhlas beribadah kepada-Nya. Setiap ujian pada dasarnya adalah sebuah medan jihad yang harusnya dimaknai sebagai tempat berlatih untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Adakalanya kita semua diuji dengan berbagai hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bisa jadi suatu hal yang secara “perhitungan” manusia tidak terjadi pada kenyataannya melakukan fungsi berkebalikan dengan aksioma realita. Suatu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya malah “kejadian”.

Ketika ketika sedang mendapati diri kita dalam keadaan kekurangan atau kesedihan, maka ujian Allah sebenarnya sedang mentarbiyah kita semua agar menjadi hamba yang tegar dan mampu bersabar. Menjadi hamba yang sebenarnya bisa berbuat lebih banyak lagi dari sebelumnya. Menjadi hamba yang harus lebih produktif dan berguna bagi lingkungannya. Terkadang pula yang demikian adalah isyarat dari Allah mengenai setiap perilaku kita yang terkadang kita sendiri tidak menyadari telah keluar dari As-sholah. Diri ini sedang dididik kembali oleh Allah agar tidak menjadi manusia yang lupa diri dan angkuh.

Terasa sakit dan tidak mengenakkan memang, Read More…

Posted by: dimasagil | July 9, 2008

mABa…

Malam ini saya ada agenda hingga pukul 11 malam. Sebenarnya pingin segera pulang, tapi beberapa jam yang lalu saya mendapat pesan singkat untuk segera datang ke gedung GSP mala mini juga. Ada apa gerangan di GSP? Yah…karena hari-hari ini adalah waktu buat registrasi mahasiswa baru di kampus, jadi hampir semua organisasi kampus sibuk dengan acara penyambutan MaBa. Seakan tidak mau kalah, berbagai elemen gerakan mahasiswa pun turut ambil bagian dalam momen ini. Sekedar menunjukkan eksistensi atau mungkin lebih akrab dikenal sebagai pencitraan lembaga bahwa yang ada di kampus ini bukan hanya manusia-manusia yang “gila” dengan akademis, tetapi juga manusia muda nan cerdas yang juga bersiap untuk mengangkat dan memperjuangkan bangsanya hanya saja melalui sudut pandang perjuangan dan paradigma yang berbeda. begitulah mahasiswa, selalu kaya akan inovasi dan mempunyai kekuatan untuk berdinamisasi dengan keadaan yang menyelimutinya. Read More…

Posted by: dimasagil | July 9, 2008

Seperti Biasa Tak Ada yang bEdA

Hari ini saya kembali ke Madiun. Kira-kira pukul 19.15 bus membawa saya keluar dari terminal Jogja. Seperti biasa dan tak ada yang berubah, saya duduk di dalam bus sendirian diantara puluhan bangku yang kosong, sedang bus pun seakan bersikap acuh dengan kedaan ini terus saja melaju dengan kecepatan cukup tinggi standar bus malam. Di tengah perjalanan saya masih sempat menghubungi seorang temen akhwat untuk minta tolong mengkopikan sebuah draft (afwan ya Mbak, saya tahu mbak juga capek, walaupun akhirnya draftnya ga dipake) dan menyempatkan diri membaca beberapa halaman buku. Perjalanan tetap saja seperti itu, terkadang membuat saya sedikit mengantuk…membosankan karena tidak ada pengamen atau seseorang yang duduk di sebelah saya untuk sekedar berrtukar cerita.

Sekitar pukul 00.00 saya sudah tiba di terminal Madiun. Oh…betapa leganya. Aroma kota kecil ini begitu khas, keadaan di terminal pun cukup tawadhu. Tapi, saya cukup bahagia bisa kembali menginjakkan kaki ini di tempat yang sudah banyak memberikan kepada saya pelajaran yang unik dan tak akan pernah bisa terhapus dalam memory saya sendiri. Sayang…malam itu saya tidak bisa menginap di rumah Madiun. Orang tua menghendaki saya untuk segera pulang ke kota kelahiran. Yah…tak jadi masalah sih.. tapi jujur saya masih belum puas dengan prolog ini, terlalu singkat dan tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya menggunakan 20 menit saya untuk untuk jalan-jalan di lobi terminal yang sebenarnya keadaanya pun cukup hening. Sebagian besar pertokoan telah menutup pintunya seakan tak mau menatap wajah saya yang kusut kecapekan. Hanya tertinggal beberapa pedagang yang memang berjualan nasi pecel hingga esok pagi. Hingga akhirnya saya harus kembali naik bus dengan berat hati ke Ponorogo (oh…bapak..Ibu..kenapa ga pindah aja ke madiun?) perjalanan sepi dan sendiri ini kembali terulang, setengah jam terlampaui begitu saja, sedikit beda, busnya kali ini lumayan penuh. Read More…

Older Posts »

Categories